Merah Putih teruslah kau berkibar, di ujung tiang tertinggi, Indonesiaku ini!" - coklat-Salam dari 3805 mdpl!
Setelah puas menikmati alam Jambi dari atas gunung, kami segera bergegas turun ke Shelter 3 untuk segera turun ke Kayu Aro. Tepat pukul 11.00 WIB kami mulai turun. Jalur
yang curam ketika berangkat tetap saja curam lagi ketika turun. Sukses membuat dengkul gemeteran! Kami harus
lebih ekstra berhati-hati dalam perjalanan pulang ini.
Gak tau kenapa dengkul saya bener-bener cenat cenut setelah tiba di Shelter 1. Beneran deh kalo ketemu jalan yang terjal saya mesti pegang kanan-kiri buat jalan. Gak tau lagi dudul banget kaki saya waktu itu. Kalo kata Kiddy mah intinya perjalanan turun gunung malah lebih riskan dibanding perjalanan waktu naik - pendaki yang tersesat biasanya malah waktu perjalanan turun gunung. Alhasil kami berempat selalu bersama-sama mulai dari puncak sampai bawah. Jujur, saya jadi gak enak hati sama anak-anak yang terus berjalan di belakang saya. . Terimakasih kalian yang sudah sabar nungguin saya. :)
Setelah 5 jam lamanya,
akhirnya kami sampai juga di Pintu Rimba. Saking gemesnya keril saya dibawain Kiddy dari Pintu Rimba sampe tempat nungguin ojek yang datang menjemput kami. Sementara saya jalan mundur terseok-seok pake tongkat. Hahaa
Setibanya di Kayu Aro, kami segera beranjak menuju Penginapan Paiman untuk bermalam. Terimakasih Kiddy, Regian, dan Kang Shiddiq!
Mission Completed!
Rincian Lama Perjalanan dari Pintu Rimba - Puncak Kerinci
Nama Pos
|
Lama Perjalanan
|
Pintu
Rimba – Pos 1
|
15 menit
|
Pos
1 – Pos 2
|
30 menit
|
Pos
2 – Pos 3
|
45 menit
|
Pos
3 – Shelter 1
|
1.5 jam
|
Shelter
1 – Shelter 2
|
3.5 jam
|
Shelter
2 – Shelter 3
|
1 jam 10 menit
|
Shelter
3 – Puncak Kerinci
|
2 jam
|
TOTAL
|
9 jam 10 menit
|
Akomodasi menuju Gunung Kerinci dari Lampung dan Bandung :
Dari
Bandung
1.
Bus Bandung – Jambi (Rp 250.000,00)
2.
Travel Jambi – Sungai Penuh (Rp 100.000,00)
3.
Angkot Sungai Penuh – Kersik Tuo (Rp
8.000,00)
4.
Ojek sampai Pintu Rimba (Rp 10.000,00)
5.
Konsumsi selama di Kayu Aro – Jambi (Rp
100.000,00)
6.
Penginapan Paiman (Rp 30.000,00/malam)
Dari
Lampung
1.
Travel Lampung – Jambi ( Rp 280.000,00)
2.
Travel Jambi – Sungai Penuh (Rp
100.000,00)
3.
Angkot Sungai Penuh – Kersik Tuo (Rp
8.000,00)
4.
Ojek sampai Pintu Rimba (Rp 10.000,00)
5.
Konsumsi selama di Kayu Aro – Jambi ( Rp
100.000,00)
6.
Penginapan Paiman (Rp 30.000,00)
Pemeran pendakian ini :
| Shidiq Maulana |
| Regian Achmad Kalis |
| Saya, DMN :') |
Alhamdulillah bangun di pagi hari badan sudah mulai enakan. Langsung beres-beres tenda dan packing tepat pukul 07.00 WIB kami segera tancap gas menuju pemberhentian kami selanjutnya! SHELTER 3! *ini jarang banget kami berempat sigap beres-beres dan jam 7 pagi men udah siap capcus!*
Shelter 3
Dari Shelter 2 sampai Shelter 3 menghabiskan kurang lebih 1 jam perjalanan. Baru awal perjalanan, trek sudah sangat sangat terjal. Slope mulai dari 60 - 90 derajat bakal sering banget kita jumpai sepanjang perjalanan. Gak jarang, atraksi cium dengkul kami lakukan sepanjang perjalanan. Oksigen yang kian menipis membuat kami cepat lelah.
Makin ke atas, tanaman makin memendek. Cantigi makin mendominasi. Cantigi merupakan tanaman yang dapat bertahan dalam cuaca ekstrem sehingga dapat bertahan di daerah ini. Cantigi juga sangat membantu para pendaki ketika kesusahan menghadapi trek yang aduhai terjalnya! Tak jarang saya berpegangan pada cantigi ketika saya mulai terseok-seok menghadapi trek! Walaupun trek antara Shelter 2 - Shelter 3 relatif dekat tapi sangat dibutuhkan tenaga ekstra menghadapi trek yang terjal.
Dan akhirnya kami sampai juga di Shelter 3, shelter yang biasanya digunakan pendaki sebagai camp terakhir sebelum summit attack. Shelter 3 berada pada ketinggian 3351 mdpl,
koordinat 101.267184o BT – 1.705709o LS. Kondisi di Shelter 3 ini sangat terbuka dan lumayan luas menampung beberapa tenda.
Disini kami bertemu dengan pendaki lain yang baru saja muncak dan akan turun hari itu. Yaah. Lagi-lagi kami hanya berempat dalam pendakian ini :( . Setelah bertegur sapa dan mengobrol sejenak, merekapun pamit untuk turun dan kami segera membangun tenda.
Seharian kami habiskan untuk berkeliling di sekitar Shelter 3 sambil bernarsis-narsis ria dan ini nih yang sukses membuat tangan blang bonteng black and white. Hahaha. Ohiya, di shelter ini kita bisa nemuin sumber air yang kalo kata saya lumayan terbatas, jadi mesti hemat-hemat juga. Untungnya waktu itu hanya ada kami berempat sehingga kami masih bisa menikmati air yang lumayan banyak :)
Seharian kami habiskan untuk berkeliling di sekitar Shelter 3 sambil bernarsis-narsis ria dan ini nih yang sukses membuat tangan blang bonteng black and white. Hahaha. Ohiya, di shelter ini kita bisa nemuin sumber air yang kalo kata saya lumayan terbatas, jadi mesti hemat-hemat juga. Untungnya waktu itu hanya ada kami berempat sehingga kami masih bisa menikmati air yang lumayan banyak :)
| Titik Tertinggi Berkemah yang pernah saya rasain! |
| 4 kaki - 4 hati - 4 cerita! Semua cerita ditumplekin di tenda ini :') |
Summit Attack to ATAP SUMATERA
Lagi-lagi kami bangun subuh! Tepat pukul 03.30 WIB kami memulai perjalanan menuju Atap Sumatera ini. Awal perjalanan, kami membelah punggungan dan setelah mencapai bagian atas, jalanan landai dengan jurang di kanan-kiri mendominasi trek. Batas vegetasi adalah punggungan tadi. Sangat disarankan menggunakan masker mengingat debu sangat mengganggu pernafasan. Setelah 1 jam menanjak kamipun tiba di Tugu Yuda.
Lagi-lagi kami bangun subuh! Tepat pukul 03.30 WIB kami memulai perjalanan menuju Atap Sumatera ini. Awal perjalanan, kami membelah punggungan dan setelah mencapai bagian atas, jalanan landai dengan jurang di kanan-kiri mendominasi trek. Batas vegetasi adalah punggungan tadi. Sangat disarankan menggunakan masker mengingat debu sangat mengganggu pernafasan. Setelah 1 jam menanjak kamipun tiba di Tugu Yuda.
Tugu Yuda
Tugu Yuda berada di ketinggian 3684 mdpl dan berlokasi pada 101.264274o BT – 1.699235LS. Disini terdapat sebuah tugu sebagai bentuk in memoriam untuk Yuda yang hilang di sini beberapa tahun yang lalu. Tugu Yuda berada pada daerah lapang sebelum sampai puncak. Dari sini terlihat jelas puncak Kerinci. Dari Tugu Yuda sampai Puncak Kerinci diperlukan waktu sekitar 30 menit. Trek menanjak sampai akhir. Dan tepat 2 jam lamanya kami sampai juga di Puncak Kerinci, 3805 mdpl.
Tugu Yuda berada di ketinggian 3684 mdpl dan berlokasi pada 101.264274o BT – 1.699235LS. Disini terdapat sebuah tugu sebagai bentuk in memoriam untuk Yuda yang hilang di sini beberapa tahun yang lalu. Tugu Yuda berada pada daerah lapang sebelum sampai puncak. Dari sini terlihat jelas puncak Kerinci. Dari Tugu Yuda sampai Puncak Kerinci diperlukan waktu sekitar 30 menit. Trek menanjak sampai akhir. Dan tepat 2 jam lamanya kami sampai juga di Puncak Kerinci, 3805 mdpl.
| Puncak Kerinci dari Tugu Yuda |
Atap Sumatera, (3805 mdpl) - Alhamdulillah
Setelah 2 jam lamanya dari Shelter 3 akhirnya, PUNCAK GUNUNG KERINCI. Titik Tertinggi yang pernah kaki saya tapaki. Alhamdulillah. Hal pertama yang saya lakuin adalah Sujud Syukur. Jujur semua perasaan campur jadi satu, haru-lelah-bangga-senang campur aduk jadi satu. Terimakasih Ya Allah :')
Setelah 2 jam lamanya dari Shelter 3 akhirnya, PUNCAK GUNUNG KERINCI. Titik Tertinggi yang pernah kaki saya tapaki. Alhamdulillah. Hal pertama yang saya lakuin adalah Sujud Syukur. Jujur semua perasaan campur jadi satu, haru-lelah-bangga-senang campur aduk jadi satu. Terimakasih Ya Allah :')
Setelah sujud syukur, langsung saya hampiri Kiddy yang telah lebih dulu berada di Puncak. Kami berempat segera berpelukan di atap sumatera sambil menikmati pemandangan yang luar biasa. Dari puncak kerinci bisa kita lihat Danau gunung Tujuh di sebelah Timur, Danau Belibis di sebelah Barat Daya, dan Bukit Barisan di sebelah Tenggara.
| *gunung kerinci masih aktif!* |
Sambil menunggu matahari terbit, kami berempat terdiam dalam jaket masing-masing. Udara benar-benar dingin membuat kami semua menggigil. Angin kencang juga berhembus di puncak ini. Bonus! Ini udara terdingin yang pernah saya rasain. Bbbbrrrrr. Pelan-pelan, matahari pagi mulai menyingsing. Selamat pagi dari 3805 mdpl! :')
Dari Kayu Aro perjalanan dilanjutkan dengan menumpang ojek untuk sampai di Pintu Rimba dengan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Alternatif lain adalah berjalan kaki melewati kebun teh dengan waktu tempuh sekitar 2 jam :D, (dan kami lebih memilih ojek dibanding jalan kaki, lumayan menghemat tenaga) sebelum memasuki area perkebunan, kita akan disambut oleh Tugu Macan, ikon dari Kayu Aro- Kersik Tuo sendiri.
| Welcome to Tugu Macan! Auuum |
| (Bukan) Pintu Rimba. Pintu Rimba masih ada di balik pepohonan itu |
Pintu Rimba
Pos Kami diturunkan langsung di dekat Pintu Rimba dan melewatkan pos pendaftaran (hehe). Pintu Rimba sendiri berada pada 1816 mdpl dengan koordinat 101.259349o BT – 1.747303o LS, sebelum melanjtkan perjalanan kami melakukan sedikit pemanasan. Trek menuju pos 1 masih relatif landai.
| EBB Bukit Barisan - di Pintu Rimba |
Pos 1
Pos 1 berada di ketinggian 1902 mdpl dengan
koordinat 101.260216o BT – 1.740821o LS . Ditandai dengan
Bangku Panjang yang sudah lumutan dan Bangunan Shelter yang basah. Awal pendakian masih disuguhkan dengan trek yang lumayan landai (Alhamdulillah) namun relatif lembap. Di perjalanan menuju Pos 1 ini saya masih bisa mengejar Kiddy dan Regian yang berada di depan saya. Semangat 45!
| Bangku yang ada di Pos 1 |
| Bangunan yang ada di Pos 1 |
Pos 2
Pos 2 berada
pada koordinat 101.260439o BT – 1.748021o LS dengan
elevasi 2015 mdpl. Pos 2 ini ditandai dengan plang bertuliskan “Pos
2” yang tertancap di pohon. Di Pos 2 ini juga terdapat
Sumber Air yang ketika musim kemarau akan kering. (Persiapan air harus cukup
mengingat air baru akan dijumpai di Shelter 3). Trek sudah mulai menanjak namun masih dijumpai jalanan yang landai di beberapa titik.
Pos 3
Pos 3 berada
pada ketinggian 2205 mdpl dengan koordinat 101.262286o BT – 1.729133o
LS. Di pos 3 ini terapat semacam bangunan yang digunakan sebagai shelter.
Mirip dengan Pos 1. Cuaca yang lembab membuat pos ini terlihat ‘basah’.
Sekeliling pos didominasi pohon pohon tinggi serta tanaman yang cukup rimbun. Sebelum
mencapai pos 3 kita bisa menemukan akar gantung yang di dalamnya terdapat air. Lumayan buat tambahan air kalo lagi kere air. Hhe. Ketika kami sampai di pos ini, waktu sudah menunjukkan siang hari. Oh men, entah kenapa saya merasa sangat kelelahan di pendakian ini. Mungkin efek saya yang lagi kedatangan tamu ditambah saya yang suka gliyeng kalo lagi dapet. :'(
| Pos 3 |
| Sepatu kumel yang setia nemenin saya :') |
Shelter 1
Shelter 1 berada
di pada koordinat 101.263609o BT – 1.720313o LS dengan
ketinggian 2516 mdpl. Penciri khas Shelter 1 ini adalah terdapat tiang – tiang
shelter yang sudah ambruk dan sebuah pohon besar. Di Shelter 1 ini kita dapat
bermalam karena daerahnya yang cukup luas. Udara di Shelter ini sangat dingin
dan lembab.
![]() |
| Shelter 1 |
Trek menuju shelter ini sudah didominasi tanjakan. Beberapa kali kita akan memutari punggungan dan WOW, dibalik rasa lelah mata sedikit disegarkan dengan alam Indonesia yang luar biasa indah. Bener yaa kalo hutan di Sumatera itu relatif masih perawan. Bener-bener belum dijamah manusia.
Mengingat perut kami sudah keroncongan akhirnya kami memutuskan membuka makan siang kami, taraaaaa, cukup roti tawar dengan susu coklat. Yummy. Lumayan mengganjal teriakan cacing-cacing di perut kami . Hehee
| Shelter 1 |
| Welcome to Shelter 1 |
Perjalanan menuju Shelter 2 ini adalah perjalanaaaan TERPANJANG dan TERLAMA. Badan yang udah susah diajak berkompromi dan lutut yang mulai soak, membuat perjalanan menuju shelter 2 ini menghabiskan 3,5 jam (versi santai). Saya bener-bener SLOW banget dan menerapkan pribahasa alon alon asal kelakon. Suwer kaki rasanya udah susah buat diajak kompromi lagi. :'(. Jadi waktu ngeliat Kiddy dan Regian duduk-duduk di area Shelter 2 rasanya itu lega ga ga ga. :') (Hore! Akhirnya sampai juga) :D. Trek menuju shelter ini luar biasa nanjak dan terkadang kita harus melewati sungai intermitten, bertumpu dengan akar sebagai pijakan dan beberapa kali memutari punggungan. Yang jelas kalau sudah mulai menemukan cantigi, itu pertanda anda sudah mendekati Shelter 2.
![]() |
| Salah satu trek menuju Shelter 2 |
Shelter 2 yang berada
pada koordinat 101.267749o BT
– 1.709719o LS dengan elevasi 3081 mdpl memiliki tempat yang lumayan untuk nge-camp. Area camping nya lumayan tertutup pepohonan sehingga lumayan tertutup dari terpaan angin yang was wes wosss. Seharusnya sih kami dapat menemukan sumber air, tapi lagi-lagi kering disaat pendakian kami.
| Area Camping |
Turunkan keril dan segera membagi tugas. Ada yang membangun tenda dan memasak makan malam. Sekitar pukul 17.45 WIB kami segera menuju tempat kosong untuk menikmati senja di langit Sumatera. Bener-bener jingga dan WOW, keren! :)
| Senja di Kerinci |
Kami berempat merupakan satu-satunya tim pendaki yang berkemah di Shelter ini. Dan entah kenapa malam itu di Shelter 2 angin was wes wosss mengusik tidur kami. Beberapa kali sempat terjaga dan SATU kali ngelindur membuat tidur saya sangat sangat gak nyenyak malam itu. Fix setelah malam itu, saya enggak mau tidur dalam keadaan gelap sampai sekarang. Hmmm, menyisakan sedikit trauma :'(, Terimakasih Kiddy, Regian dan Kang Shiddiq yang sudah dikejutkan dan direpotkan malam itu :'). (bener-bener gak bakal lupa sama si angin yang waswesswoss dan saya yang ngelindur di atas gunung!)
| Full Team |
Good night Kerinci! Sedikit lagi sampai di Atap Sumatera!
Akhirnya setelah berbulan-bulan sempet pending nulis tentang perjalanan saya ke Atap Sumatera, disponsori oleh koneksi internet yang kenceng, mari kita tuntaskan cerita panjang ini! :D
******
Dari Sungai Penuh kami berempat segera menumpang angkutan desa menuju Kayu Aro. Perjalanan kali ini benar-benar menyejukkan mata. Selepas Kota Sungai Penuh, jalanan
khas desa menyambut kami. Satu jalan lurus yang membelah persawahan menjadi hal
yang kami lalui di awal perjalanan. Sampai akhirnya jalanan sudah
berkelok-kelok dan membelah kebun teh yang sangat luas.
Perkebunan teh ini
menunjukkan kami sudah akan tiba di Kayu Aro. Konon, kebun teh Kayu Aro ini
merupakan kebun teh terluas se-Asia tenggara dan tertinggi kedua setelah
perkebunan teh di Nepal (4000 mdpl). Luas? Sangat! Tertinggi kedua? Mungkin. Yang jelas kebun teh ini berada di ketinggian 1600 –
1800 an mdpl. Tampak di kejauhan Gunung Kerinci berdiri dengan kokoh. Hanya
saja waktu itu puncak Gunung Kerinci tertutup kabut. Penduduk
Kayu Aro ini nyaris sebagian besar bersuku Jawa sehingga kamipun bisa mengobrol
dengan santai.
Selamat Pagi Kayu Aro, Kerinci!
Kalimantan atau Sumatera?
Ada ajakan dari teman untuk keliling Borneo satu bulan lamanya dan bakal menghabiskan lebaran di pulau seberang itu. Awalnya saya sangat sangat berminat, tetapi ada ajakan lainnya untuk mendaki Atap Sumatera di bulan September. Oh men, saya gundah gulana. Mikir sana mikir sini, akhirnya saya putuskan untuk melalangbuana ke Jambi. Bismillah.
Perjalanan sangat panjang ini sebenernya adalah perjalanan yang tertunda. Awalnya kami merencanakan setelah UAS, tapi mendadak gagal gara-gara ada kulap. :'( Dan Alhamdulillah, awal September 2012, kami berangkat juga ke Atap Sumatera! :)
Ajak sana ajak sini, lagi-lagi perjalanan ini hanya diikuti 4 orang. Ada saya, Kang Shiddiq, Kiddy dan Regian. Karena waktu itu ceritanya baru banget lebaran, jadi kami berangkat masing-masing dengan meeting point Jambi. Saya berangkat dari Lampung dan yang lainnya berangkat dari Bandung.
Lampung - Jambi
Saya berangkat dari Lampung menuju Jambi numpang travel. 16 jam menuju Jambi. Perjalanan malam sangat direkomendasikan kalo gak mau spot jantung. Yaa. Kalian taulah gimana supir-supir mobil kalo melintasi Jalinsum (jalan lintas sumatera). Tulangbawang-Talang Kelapa -Banyu Asin - Pangkalangresik - Bayung Lencir - Sungai Bahar dan Mestong adalah rute yang travel ini lalui. Travel ini mengambil rute Jalan Lintas Timur Palembang - Jambi.
Begitu tiba di Jambi, saya langsung diantarkan ke agen travel AYU selanjutnya yang akan membawa kami menuju Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci. Travel Ayu ini berada di Jln. Pattimura atau biasa dikenal daerah Kuburan Cina. Warga Jambi relatif lebih mengenal nama daerahnya ketimbang nama jalan. Soalnya saya sempat bertanya ke beberapa orang dan mereka malah lebih mengenal sebutan Kuburan Cina.
Setiap perjalanan, mendatangkan orang-orang baru.
Saya setuju pisan dengan kalimat itu. Jadi ceritanya, waktu di dalem travel saya mendapatkan kenalan baru, Mbak Arum, seorang mahasiswi Kedokteran. Saya sempet singgah di kosan mbak Arum, ngerepotin mbak Arum. Aaaaa. Makasih Mbak Arum buat tumpangannya di Jambi :)
| Makan siang yang sangat telat! :") |
Jambi
– Sungai Penuh (Kerinci)
Pukul
19.22 WIB travel yang kami tumpangi segera meluncur menuju Kerinci. Mobil segera
menuju pinggiran kota, sampai akhirnya berbelok ke suatu jalan yang sangat
lurus-panjang namun gelap. Sinyal handphone
langsung berubah menjadi SOS
sepanjang jalan ini. Pertunjukan dimulai! Perut kami sudah mulai dikocok-kocok,
padahal jalan yang kami lalui hanya jalan lurus saja. Untungnya jalanan masih
bagus, hanya di beberapa spot jalanan
rusak. Tapi, tetap saja perut kami terkocok. Setelah habis sampai di ujung
jalan ini, langsung Jalan Lintas lainnya yang kami jumpai. Truk-truk besar
mendominasi jalanan ini. Alamak. Makin jempalitan
jantung ini. Perjalanan benar-benar tegang. Kami yang tadinya masih
mengobrol satu sama lain, sekarang sibuk sendiri-sendiri. Saya yang berusaha
untuk tidur dan akhirnya tidak bisa tidur memilih *menikmati* perjalanan kali
ini. Mulut komat kamit mengucap segala macam doa, mata menatap lurus ke depan
melihat mobil yang disalip dan mobil dari arah berlawanan. Mata baru bisa
terpejam ketika jalanan sepi. Setidaknya kalau jalanan sepi travel yang kami
tumpangi tidak akan menyalip mobil-mobil lainnnya. Ohiya, ada satu hal yang
unik. Sepanjang perjalanan, sopir travel ini memasang musiknya Peterpan dan
band-band Indonesia lainnya. Untung saja. Yaa, kami masih bisa-lah mengikuti
lirik yang ada. J
Pukul
22.00 WIB. Kami beristirahat di negeri antah berantah. Tidak ada plang yang
menunjukkan nama daerah itu. Disini, kami memesan susu manis hangat untuk
mengganjal perut yang telah dikocok-kocok. Tak kurang dari 45 menit mobilpun
melaju. Jalanan yang sepi – gelap membuat mata kembali terpejam. Ya walaupun
terkadang saya terbangun dan begitu melihat daerah sekitar yang saya lihat Cuma
gelap – gelap – dan gelap. Yang jelas jalanan ini sudah mulai berkelok – kelok.
Berarti kami sudah melewati daerah Bangko. Udara pun sudah mulai dingin.
| Travel Ayu |
Selama perjalanan kami istirahat sebanyak 2 kali. Jalan
yang kami lalui setelah istirahat yang kedua adalah bukit-bukit kecil. Serupa dengan perjalanan ke
Bromo dan Sembalun , pintu masuk ke Gunung Rinjani. Melewati punggungan bukit,
berkelok-kelok, dan gelap. Untungnya kali ini mobil tidak begitu ngebut. Alhamdulillah. Sekitar pukul 04.30 WIB kami tiba di Sungai Penuh! Perjalanan yang
sangat panjang dan sangat memacu adrenalin! 500 kilometer kami tempuh dari
Jambi untuk sampai ke kota ini.
Perjalanan
menuju Gunung Kerinci masih belum selesai disini. Masih ada 30 km lainnya. Yak. Kami
masih harus menumpang angkutan desa dari Sungai Penuh ke Kayu Aro sebelum melakukan pendakian ke Atap Sumatera!
Suasana
pagi hari di Sungai Penuh sangat sejuk. Kota ini dikelilingi oleh dataran
tinggi di sekitarnya. Serupa dengan Bandung, dikelilingi dataran tinggi di
sekitarnya. Tak ayal, udara sejuk menjadi hal biasa di daerah itu. Orang
beramai-ramai ke Pasar untuk menjajakkan dagangannya dan sebagian lainnya
berlaku sebagai pembeli. Sebuah simbiosis
mutualisme di kehidupan yang sebenarnya.
MORNING SUNGAI PENUH!
34 jam lamanya dari Lampung sampai Sungai Penuh yang sangat WOW .
.....bersambung
.....bersambung






