Catatan Deem


Kawah Ijen
Setelah one day trip to Baluran, saatnya kami bertiga ngebolang lagi menuju Kawah Ijen. Rencananya kami pingin bermalam di Paltuding sambil menunggu dini hari untuk melakukan pendakian ke Kawah Ijen demi demi demiiii si blue fire. Singkat cerita, kami hanya membawa perlengkapan pribadi seperlunya untuk camping ceria di Paltuding. 
Terminal di Banyuwangi
Dari banyuwangi kami naik angkutan umum sampai ke Terminal dan dilanjutkan ke Licin atau Jambu (saya lupa yang mana), yang jelas kami bermaksud menumpang truk pengangkut belerang yang akan kembali ke Paltuding. Tapi truk yang kami tunggu-tunggu tak kunjung datang sampai akhirnya ada Ibu-ibu memberikan informasi bahwa truk terakhir sudah berangkat. Alamak! Mendadak kami gatau mesti naik apa buat ke Paltuding, truk pengangkut belerang adalah satu-satunya harapan kami. Lagi bingung naik apaa ke Paltuding, eh ada mobil bak terbuka berhenti dan langsung menawarkan ke kami apa mau ikut ke Paltuding atau tidak. Langsung saja kami jawab iyaaaa dan akhirnya kami menumpang ke Paltuding dengan mobil tersebut. Jadi mobil tersebut sebenarnya habis membawa sayuran dan akan kembali ke atas lagi. Untung deh ada mobil terbuka itu, kalo enggak ya gatau deh mau naik apaan ke Paltuding. Alhamdulillah😅

Hati-hati tanjakan!
 Setibanya di Paltuding kami langsung menuju loket pendaftaran sambil menanyakan mengenai penginapan. Berhubung penginapannya udah penuh, kami diberikan pilihan apakah mau sewa tenda saja untuk penginapan atau bisa duduk-duduk di warung sambil menunggu dini hari. Ya kali nunggu di warung, kami pun memilih tenda. Di sekitar loket pendaftaran sendiri ada area camping ground sendiri. Kami membangun tenda di sana. Sambil menunggu dini hari kami bersantai-santai di dalam tenda. Ohiya, untuk makanan, di sana banyak sekali warung tenda. Karena waktu kedatangan kami bersamaan dengan waktu liburan jadi banyak pedagang di sana. Mungkin akan berbeda ketika bukan waktu liburan.
Camping ground
Makin malam makin banyak pengunjung di Paltuding. Ada yang langsung ke kawah Ijen dan ada yang mendirikan tenda seperti kami juga. Hhehee. Sampai akhirnya ada bule dari Jepang/Cina (saya lupa) yang ikut mendirikan tenda di sebrang tenda kami. Singkat cerita kami pun berkenalan dan bule tersebut sempat menanyakan beberapa lokasi wisata di Indonesia. Kami pun berjanjian kalau akan berangkat bareng ke atas (Kawah Ijen).

Sambil menunggu dini hari datang, saya bolak balik ke kamar mandi buat buang air kecil, yaaa you know lah saya emang terkenal tukang beser 😝apalagi udara dingin kalii, tambah deh pingin beser, hahaa dan sering kali bikin saya bolak balik ke kamar kecil. Sayangnya, hobi saya satu itu bikin saya agak bokek karena setiap kali saya ke toilet saya mesti bayar sekian ribu rupiah. Sib nasib!!!

Akhirnya waktu yang saya nanti-nantikan datang jugaaa. Sekitar jam 02.30 WIB dinihari kami semua segera naik ke atas. Saya gak menduga trek nya lumayan bikin ngos-ngosan. Tapi yang saya seneng adalah malam itu bintangnya buanyyyaaaakkk banget!!! Langit malam itu ciamiiikk banget plus bulan sabit yang nambah romantis malam. Kalo pas lagi capek saya pandangin aja langit pasti langsung semangat lagi! Hahaaa.

Makin ke atas, bau belerang makin menyengat. Bahkan ada beberapa spot yang bener-bener bikin mual. Jadi kalo ada yang mau ke atas mesti bawa masker! Waktu saya udah sampe di atas, teh Putu dan teh Khalida udah gak mau nerusin hunting blue fire,akhirnya saya bersama bule dan beberapa tim rombongan nerusin turun ke bawah buat liat sang legenda blue fire. Untungnya saya masih sempet mengabadikan blue fire tersebut dan menyaksikan api biruuuu (bukan kompor ya!) langsung. Aaakk. cantik banget. Pas matahari udah terbit, api biru nya ilang deh,, yang ada api merah sekarang. Karena mulai enek dengan bau belerang saya mulai menjauh mencari tempat yang bau belerangnya gak terlalu menyengat.


Blue Fire Kawah Ijen
Kalau udah pagi di bawah suka ada pengrajin yang bikin hiasan dengan belerang ini. Bagus-bagus deh hasilnya! Ohiya kalau papasan dengan penambang belerang, silahkan diberi jalan dulu Bapaknya. Bawaan bapaknya udah berat kan kasian kalo mesti nungguin kita lewat. Saya salut dengan bapak penambang belerang ini. Bawaan yang dipikul aja udah berat plus bau belerang yang suka bikin sesek, tapi mereka sanggup mikul bawa turun ke Paltuding.
Salah satu hasil kerajinan dari belerang
 


Setelah puas menikmati alam Ijen,saya pun segera naik ke atas dan turun ke Paltuding lagi sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Terimakasih Ijen 😊

Trek menuju kawah
 


Full Team
Cerita ini lanjutan dari postingan saya sebelumnya (baca disini) mengenai perjalanan saya Desember 2013 lalu. Setelah kami menempuh nyaris 24 jam perjalanan darat dari Bandung - Banyuwangi, akhirnya kami sampai juga di rumah tante saya, di Ketapang, tepat sekali di belakang Selat Bali dan sangat dekat dengan Pelabuhan Ketapang. Setibanya di sana waktu sudah menunjukkan sore hari. Kami langsung bersih-bersih dan malam itu perut kami alhamdulillah kenyang dengan makanan yang disajikan oleh sepupu saya. Makasih Dek Tanti 😃

Taman Nasional Baluran
Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi sekali. Setelah selesai sarapan, kami langsung bersiap-siap ke Taman Nasional Baluran. Waktu itu kami naik angkutan umum untuk sampai ke Baluran. Perjalanan waktu itu memakan waktu sekitar 30-45 menit. Setibanya di Baluran kami langsung mengurus tiket masuk ke Baluran. Lokasi taman nasional nya sendiri sebenarnya masih jauh dari gerbang Baluran. Kalau bawa kendaraan pribadi enak sih, tinggal masuk aja tapi kalau gak ada kendaraan pribadi kita masih bisa sewa ojek untuk masuk ke dalam.

Perjalanan ke dalam pun cukup lama tapi sepanjang jalan kita disuguhkan view hutan,tanaman-tanaman bahkan kami menemukan segerombolan kupu-kupu di jalan. Kata Bapak Ojek kupu-kupu nya bisa lebih banyak kalau lebih pagi. Biasanya kupu-kupu akan bergerombol di jalan yang ada kubangan air nya dan bakal langsung whuuussss terbang kalau ada kendaraan yang lewat. Pingin mendokumentasikan pas kupu-kupunya terbang apadaya kamera nya tidak mendukung, hiksss. 
Itu sebenernya ada kupu-kupu nya
Pohon xx

Begitu kita menemukan savana, mampirlah ke savana tersebut. Savana tersebut terkenal dengan nama Savana Bekol. Di sekitar savana itu pun terdapat penginapan yang disewakan. Sebenernya pingin tinggal di situ cuma waktu itu udah full. Huhuhuu.. Selain itu ada juga menara pandang untuk melihat pemandangan dan siapa tau bisa liat satwa liar di sana. Ohiya, jangan lupa untuk take a photo soalnya di savana ini view Gunung Baluran bisa terlihat jelas. Taman Nasional Baluran ini juga terkenal sebagai African van java. Iya juga sih, kalo lagi kering banget savana nya bakal warna kecoklatan dan mungkin ini yang bikin sensasi Afrika nya makin jadi. 

Bekol 
Gunung Baluran
View dari menara pandang
Dari Savana Bekol saatnya menuju Pantai Bama yang berada di timur daerah taman nasional. Di sana banyak hutan mangrove nya, jadi kami juga sempatkan buat main-main ke hutan mangrovenya. Akar mangrovenya gede-gede brooo!!! 😤 Sepanjang perjalanan menuju Bama, kita bakal nemuin banyak pohon XX (saya lupa namanya) seperti gambar di bawah ini, kayaknya sih masih serumpun dengan kelapa (mungkin). Kalau lagi beruntung, kita bisa nemuin kerbau ataupun banteng di habitat aslinya. Beruntungnya saya masih ketemu banteng pas di sana. Tapi itu juga dari kejauhan dan di foto pun mesti di zoom sampe mentok baru keliatan. 😌
XX
Ketemu Banteng (poto zoom berkali-kali)
Kalau mau beristirahat, di Bama ada penginapan, mushola dan kantin yang jadi tempat kami santap siang.Tapi sayangnya disana kali monyet yang berkeliaran bebas dan gak jarang mereka usil. Jadi mesti waspada ya kawan kawan. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di sini soalnya adem banyak pohon-pohon. Hahaaa. Tapi begitu udah sore, kami langsung tancap pulang sambil mampir di Savana Bekol lagi. Heheee. Terimakasih Baluran!!!!!  
Bama Beach

Mangorve


 Mission completed : Baluran.

Sambil nunggu bus langitnya bagus!




Juventus vs Malmo 
Banyak peristiwa diluar rencana yang terjadi di setiap perjalanan. Cuma satu kata "enjoy it!"
-dmn

Sore itu, hari dimana saya selesai presentasi poster di IAEG XII. Ketika kami akan kembali ke apartemen, mendadak saya diajak Suci untuk ikutan nonton pertandingan Liga Champion antara Juventus dan Malmo. Saya yang bukan penggemar bola sebenarnya sedikit malas apalagi saya gak merencanakan ini. Tapi, ayoklah tancap! Dengan moto aji mumpung akhirnya rayuan rekan-rekan membawa saya ke Juventus Stadium

Juventus Football Club!
Singkat cerita, kami segera menuju stadium mengingat waktu perjalanan lumayan lama dari tempat kami tinggal. Kami naik metro dari P. Nouva Station sampai XVII Decembre Station. Tepat di depan XVII Dicembre kami naik BUS72 yang akan melewati Juventus Stadium. Jadi sebenrnya dari kota ke Juventus Stadium masih bisa dijangkau dengan kendaraan umum.

Begitu sampai di stadion, suara gegap gempita penonton sudah terdengar dari sejak kami turun dari bus. Mendadak kami segera berlari menuju gate. Berhubung kedatangan kami agak sedikit terlambat jadi kami tidak harus mengantri dengan para pendukung masing-masing kubu. Namun begitu masuk ke dalam stadion semua bangku sudah penuh. Alhasil kami hanya duduk diantara tangga-tangga. 









Seumur-umur saya belum pernah nonton pertandingan bola live. Mentok - mentok hanya nonton di GOR Jati Unpad. Dan ini adalah pengalaman pertama saya men. Liga Champion pula. Serasa mimpi! Ditambah saya yang berada di tribun paling rame dengan pendukung Juventus. Atmosfer nya bener-bener beda. 

Penuh sama penonton!

Nonton bareng dosen, senior dan junior! :)



First impression saya dengan Juventus Stadium ini adalah satu kata keren!

-16 September 2014
 Juventus vs Malmo
When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve (Paulo Coelho - The Alchemist)
That beautful quote (for me) is locked in my brain and heart. Like what I felt in the end of 2013. After had really really busy days for almost a year, I needed a sweet escape. Something different from my last journey, not too far, no solobackpacker ( I needed friends in this sweet escape) and could spend new year eve in somewhere. And Thanks Rabb, I was not lonely again in this escape, I had mates, Non Putu and Teh Khalida. Non Putu is a friend of mine, I know her since I was in my first year in my college and Teh Khalida is Non Putu`s friend.  

Actually, we made the itinerary just from chatting, I - who was in Lampung and Non Putu - who was in Bandung, were separated by Sunda Strait. We arranged our journey by phone. After had a good itinerary (fyi : we went to EAST JAVA for exploring some national parks there and wanna spent our New Year Eve in Dien), we were confused about the transportation. Yeah, our holiday was coincide with long holiday for celebrating New Year Eve. Suddenly, all of the train ticket was sold out whereas the train was the cheapest public transportation. Because we did not want our holiday was cancelled, we tried another public transportation - and our choice was BUS (we needed to spent more money for the ticket, but it`s OK considering there were none choice for us). So, hello EAST JAVA! :)

***
Like what Paulo said that universe conspires in helping you to achieve, our journey by bus was totally amazing. I was really amazed with the view - sunrise, sunset, mountain, sea were the scenery I`d seen during my journey. Whereas the weather in the west of java was always rain, but in East Java there were no rain. Thanks Rab :).

I wanna share about our journey not in detail in this post, later I will post specifically about every places I had been visited.

The main thing is having journey with new people making different stories too, like how non Putu always bring her make up everywhere we go :* , Teh Khalida who get fever in the journey, I - who hiked to the Mt. Prau without both of them, joined with another team - wanted to see first sun in 2014 but I just see mist every where, and we went to Bali just for having a breakfast then went back to Banyuwangi after that. Hihiii

Thanks to both of you Non Putu Teh Khalida .
Let`s get lost again :)

with Non Putu, Yeay, MAAR`s girls explored East Java! :')

Teh Khalida dan Non Putu

Masjid di salah satu daerah di Banyuwangi

Rintja and Kelor Islands, both of them was unpredictable journey. In my planning, Kelimut Lake was the end point and after visiting that lake I had to go to Labuan Bajo as soon as possible I could. But, I arrived to Labuan Bajo one day earlier so I need 'something' to spend my day. Suddenly I joined with that trip and become the only one Indonesian on that trip. :')
On Rintja Island, (we could meet with 'komodo'). I prefer Rintja than Komodo Island because of the time. When we went to Komodo Island, it needed 3-4 hours but when we went to Rintja Island we only need 2 hours. Moreover I just have one day to do this trip. There, I could find 3-4 'komodo', besides that we had to tracking around the island to find that komodo. I do love the view there. Really amazing. 

After that, we went to Kelor Island, another beautiful island. Speechless.










Rintja Island





Dari rangkaian perjalanan saya kemaren ini, Danau Kelimutu jadi tujuan akhir saya. Hore! Destination paling ujung dan paling jauh. Sayangnya waktu sampai di sana, Kelimutu sedang berkabut ;'( . Udah nunggu sampe jam 8 dan kabut masih datang pergi berkali kali menutup indahnya danau-danau yang berada disana :'(

Terdengar beberapa warga lokal bersiul ketika kabut datang. Konon, dari suara siul-an ini kabut akan segera pergi. Tapi tetep aja setelah bersiul berkali -kali kabut tetap datang. *apa gara-gara kebanyakan bersiul ya?! =.=

Yaa. Sudah sangat bersyukur bisa sampai di danau ini. Walaupun berkabut danau ini tetep keren! :')


Tangga menuju Tugu Puncak

Salah satu danau



Semburat pagi di perjalanan

Ini di Indonesia loh?!!!



Postingan Lama Beranda

About Me

Foto saya
deem
Dyah. Geologist. ALSTE 2009. HMGUNPAD. Love traveling. Live your life!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • My 2nd Pregnancy
  • ►  2021 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (17)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2011 (33)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (80)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (10)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  September (2)

Popular Posts

  • (Review) Beberapa Vendor Pernikahan di Bandar Lampung
  • My 2nd Pregnancy
  • Dewi Wara Sembadra
  • MIMPI itu GRATIS
  • Dari Pulau Tanjung Putus sampai Pulau Pahawang

Copyright © 2016 Catatan Deem. Created By OddThemes & Distributed By MyBloggerThemes