Catatan Deem

Pendakian ke Cikuray ini bisa dibilang juga agak dadakan. Untuk menuju Cikuray sendiri yang jelas kita bisa ke Terminal Guntur di Garut terlebih dulu. Dari Terminal biasanya udah banyak mobil bak terbuka/angkutan umum yang siap mengangkut kita ke Pemancar. Sebelum menuju pemancar, kita bakal lewat perkebunan teh. Berhubung sampe sana udah dini hari, jadi yang keliatan ya gelap gelap dan gelap! Hahaha. Pas banget sebelum sampai di Pemancar tanjakannya aduhai bener-bener. Kami aja sampe turun dari mobil biar mobilnya kuat sampe ke atas. Kebayang kan gimana terjalnya jalanan nya. 
Pemancar
Waktu sampe sana udah sekitar jam 4an dini hari. Sambil menunggu matahari terbit, saya bersih - bersih, sholat dan sarapan. Isi bensin dulu sebelum melakukan pendakian. Hehe. Berhubung waktu itu weekend dan pendaki pasti buanyaaakk, kami langsung cuuuss memulai pendakian sepagi mungkin dengan harapan bisa dapet tempat buat mendirikan tenda. 
View selama perjalanan

Trek selama pendakian bisa dibilang mantap! Saya lumayan ngos-ngosan sepanjang perjalanan. Hahaaa. Cuma waktu itu saya alon-alon asal kelakon banget biar bisa menikmati pemandangan selama perjalanan dan alhamdulillah bisa sampe atas pas masih belum terlalu banyak pendaki. Langsung deh bangun tenda sambil menikmati view sekitar. Makin sore makin rame pendaki yang tiba di puncak dan tenda-tenda makin memenuhi area puncak dan camping ground di bawah.
Makin sore makin ramai!

Sebenernya Cikuray terkenal dengan awannya yang kalo pas sunrise baguuuss banget. Cuma berhubung waktu itu kurang cerah (banyak kabut) saya pun tidak bisa menyaksikan view yang saya pingin liat. Tapi gapapa lah, lumayan menyegarkan pikiran.

Thanks Cikuray! 




















Kali ini adalah kunjungan kesekian kalinya saya di Dieng, sebuah dataran tinggi dengan hawa yang sangat sejuk di daerah Wonosobo - Banjarnegara. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang akan melakukan perjalanan berulang kali di tempat yang sama, tapi Dieng memiliki daya tarik tersendiri yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana.

Pertama kali saya melangkahkan kaki di Dieng adalah ketika mengikuti PIT PERHIMAGI 2012 (Pertemuan tahunan untuk mahasiswa Geologi se-Indonesia). Salah satu fieldtrip adalah mengunjungi Geo Dipa yang terletak di Dieng. Dan itu adalah kali pertamanya saya merasakan hawa sejuk Dieng. Kedua kalinya saya ke Dieng adalah di awal tahun 2013 dengan tujuan utama adalah Gunung Sikunir (bisa baca di Gunung Sikunir.) Ketiga kalinya tepat satu tahun kemudian, awal tahun 2014. Kali itu tujuan saya adalah menghabiskan akhir tahun di Gunung Prau, setelah sebelumnya ngebolang ke Banyuwangi. Sayang waktu itu Prau sedang berkabut. Alhasil saya kembali untuk kelima kalinya ke Dieng demi si bukit teletubbies dan  si golden sunrise nya Prau. 
Pendakian kali ini adalah pendakian perdana saya di tahun 2015. Rehat dulu di awal tahun karena cuaca di Indoensia yang lagi kurang bersahabat namun tetap saja badan kebyoss selama perjalanan ke atas. Kami berempat (saya, Gilang, Fajri, dan Hapid) berangkat dari Jakarta menuju Wonosobo. Sebenernya agak dagdigdug juga sih, soalnya kita baru beli tiket di hari keberangkatan ditambah lagi pas banget dengan long weekend. Alhamdulillah dapet juga tiketnya. Terimakasih Gilang udah bolak balik Kalibata – Rawamangun, hihii.
Sore itu, kami janjian di terminal Rawamangun pukul 17.00 WIB. Disertai gerimis romantis tapi cukup buat tas kebyos juga akhirnya kami berhasil sampai di sana dengan selamat – gak terjebak macet. Bus kami berangkat sekitar pukul 19.30 WIB. Lumayan lama juga kami berdiri mengingat kami sudah berada di terminal sejak pukul 17.00 WIB. Selama perjalanan,bus berhenti dua kali untuk istirahat di restoran dan tepat pukul 08.00 pagi keesokan harinya kami tiba di Terminal Wonsobo.
Bus DAMRI , Rawamangun - Wonosobo
Welcome to Wonosbo!
Setelah sarapan di terminal, kami segera beranjak ke pasar Wonosobo untuk belanja logistik. Berhubung waktu itu adalah hari Jumat, jadi para lelaki melaksanakan solat Jumat dulu di Masjid dekat pasar sementara saya leha-leha di warung dekat Masjid. Hihii. Setelah selesai solat kami segera menuju depan RSUD untuk menunggu Bus yang akan membawa kami ke Dieng!
Perjalanan dari Wonosobo menuju Dieng memakan waktu sekitar satu jam. Kami turun di Balai Desa Patak Banteng, yang menjadi salah satu tempat berkumpul bagi pendaki yang ingin naik ke Gunung Prau. Pendaki sudah memenuhi Balai Desa sehingga kami mencari lokasi kosong yang masih berada di samping Balai Desa sambil menunggu teman-teman yang masih dalam perjalanan.
Narsis di depan Pos Pendakian Patak Banteng
Sekitar pukul 14.30 WIB teman-teman (Angga, Danis, Jaya dan Jefri) sampai juga di Patak Banteng. Sambil packing ulang dan menyiapkan logistik yang kurang kami beristirahat di lokasi tersebut. Sebelum melakukan pendakian, kami melakukan pendaftaran di Basecamp Pendakian Gunung Prau. Setiap pendaki dikenakan biaya sebesar Rp 10.000,- untuk retribusi. Setelah mendaftar, dimulailah perjalanan 4 jam kami. Jeng…jeng…jeng…


View dari Pos Pendakian Gunung Prau
Singkat cerita, perjalanan yang seharusnya bisa sedikit lebih cepat menjadi lebih lama karena sore itu Dieng baru saja hujan, jalanan menjadi sangat becek dan ramainya pendaki yang menyebabkan kemacetan di beberapa titik. Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 WIB kami semua sudah tiba di atas. 

Perut keroncongan dan akhirnya dengan sedikit perjuangan malam itu kami masih bisa nggeganjel perut sama Sayur Sop. Nyaammnyaaammmm :) . Perut kenyang matapun ngantuk. Malam itu saya tepar dan siap menyambut matahari besok pagi. Semoga gak mendung. Amin.


Menanti Fajar
Seperti biasa, saya selalu memasang alarm pukul 04.00 WIB demi melihat matahari pagi itu. Sebenarnya saya sudah bersama matahari saya yang lain, hihiii, tapi pagi itu saya tetap berniat untuk melihat matahari pagi bersamanya :). Alhamdulillah matahari pagi itu lumayan cerah, hati saya-pun juga lagi ceraaaaah pake banget. Hahaaa.. 

Waiting for the sunrise with my sun :)
Puas memandangi kedua matahari pagi, saya langsung semangat 45 beranjak menuju sisi lain dari puncak Prau via patak banteng. Daaaannn taraaaaaaa.... Bukit Teletubbies yang sangat terkenal itu dan membuat saya penasaran sejak 2 tahun lalu itu tepat berada di depan mata saya. Alhamdulillah. 


Bukit Teletubbies




@.@
Untuk perjalanan pulang kami memilih jalur lain. Kami memilih melewati Dieng. Terimakasih buat perjalanan kali ini :). 
Every journey always brings new friends!


Thanks all :)

:D


10 Oktober 2014
Perjalanan ini adalah sedikit pelipur lara di tengah penatnya kehidupan ibukota jakarta. Pingin jalan-jalan menyegarkan pikiran aja harus di akhir minggu, itupun cuma sabtu dan minggu aja. Emang bener ya, kalo ngebolang enakan pas kuliah, bisa cabut kuliah. Nah kalo udah kerja? Boro-boro :( . Tapi yasudahlah. Yang penting masih bisa menikmati hijaunya gunung. :)

Kali ini saya nyempil di antara para sesepuh MAAR. Reuni kecil-kecilan lah. Hhe. Tujuan kami kali ini adalah Gunung Papandayan di Garut. Tim kali ini terdiri dari Kang Shiddiq, Kang Ahmad, Kang Lukman, Kang Cuwon, Teh Agata, Gojimen, Tommy, saya dan rekan saya Ratna. Dua dari mereka adalah rekan seperjalanan saya ketika saya menghabiskan akhir tahun 2011 di Gunung Lawu. Berhubung kami semua sudah bukan mahasiswa lagi, kami janjian untuk ketemu di Nangor Jumat malam, setelah masing-masing dari kami pulang kerja.

Saya dan Ratna pun langsung berangkat pukul 17.30 WIB dari BSD. Kami berdua naik bus Maya Bakti sampai Pasar Rebo dilanjutkan naik Bus Primjas jurusan Garut. Untungnya kami berdua masih mendapat tempat duduk. Saya memilih tidur daripada bete sama macetnya jakarta dsk. Sekitar pukul 22.00 WIB saya sampai di Cileunyi lanjut ke Ciseke, kosan Rizka buat istirahat sambil nunggu Kang Lukman, Teh Agata dan Kang Cuwon. :)

11 Oktober 2014
Tepat pukul 01.30 WIB kami bertemu di pangdam (pangkalan damri). Setelahnya kami beranjak ke bunker MAAR untuk mengambil tenda dll sebelum melanjutkan perjalanan ke Garut. Berhubung saya udah ngantuk akhirnya saya tertidur dan baru bangun ketika sampai di warung untuk membeli Kue Balok. Lumayan lah buat ngganjel perut dan menghangatkan badan di tengah dinginnya Garut.
Kue Balok + Teh Manis Hangat
Kami pun melanjutkan perjalanan lagi dan akhirnya kami tiba di Cisurupan. Tadinya mau belanja dulu buat logistik tapi berhubung pasar belum buka (padahal di daerah saya jam segitu biasanya pasar udah pada buka :( ) kami langsung naik ke Camp Davis Papandayan. Saya pun memilih tidur (lagi) karena di luar pun tidak terlihat apa-apa. Sekitar pukul 04.00 WIB kami pun tiba di pelataran parkir Papandayan. Kami lebih memilih melanjutkan tidur di dalam mobil, dinginnya itu loh,,, bbbrrrr!!!!!!
Camp David

Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB dan saya mulai beranjak keluar dari mobil. Suwer. Dingin banget bro udara di luar. Tadinya sih mau liat matahari terbit tapi sayang mataharinya udah ngeduluin saya. @.@ . Pagi itu cuaca di Camp David sudah terlihat ramai. Beberapa pendaki sudah menyiapkan peralatan tempurnya dan siap mendaki ke gunung Papandayan. Selagi menunggu teman-teman yang lain kami duduk di salah satu pondokan sambil menyantap menu sarapan kami - nasi goreng -. Nyaamnyaamm.
Parkiran di Camp David

Walaupun 4 tahun lamanya saya tinggal di Jatinangor tapi saya selalu belum berjodoh sama Papandayan. Belum sekalipun berkunjung ke sana. Padahal yo lebih deket dari Jatinangor. Tapi gak tau kenapa saya belum merasa kepanggil aja ke situ,. Selalu ngebolang ke daerah Jawa Tengan ataupun Sumatera.Hhe.. Alhamdulillah sekarang ada gunanya juga, sambil menghabiskan akhir pekan sambil mengunjungi gunung-gunung yang dekat dengan tempat saya bekerja.

Ceritanya lagi istirahat



Singkat cerita kami sudah sampai di dekat Pondok Salada. Sebenernya kami ingin bermalam di Tegal Panjang tetapi ternyata jika ingin bermalam di sana kita harus mengurus simaksi minimal 1 minggu sebelum hari H. Ahh.. Pupus sudah keinginan menikmati cahaya pagi di Tegal Panjang. Mau gak mau kami bermalam di Pondok Saladah dan bener aja saat itu suasana di sana sudah ramai sekali oleh para pendaki lainnya.




Pondok Salada

Setelah mendirikan tenda kami pun segera berjalan menuju Hutan Mati. Menghabiskan waktu di sana sampai matahari terbenam dan akan berkunjung ke Tegal Alun keesokan harinya. Tadinya saya dan Gojimen ingin hunting bintang. Tapi sayangnya bintangnya kalah sama bulan dan awan. Yaudah deh akhirnya kami semua pun tertidur. 

12 Oktober 2014
Matahari keluar dari peraduannya

Sunrise 
Pagi-pagi sekali saya bareng Gojimen hunting sunrise. Bintang Papandayan gak dapet seenggaknya saya harus dapet sang matahari. Menurut saya sunrise  di setiap gunung punya keindahan masing-masing. Begitu juga dengan sunrise kali ini. Mungkin karena saya yang vakum udah lebih dari 6 bulan jadi ngerasa waahhhh lagi pagi itu.

Ada satu tempat lagi yang belum kami kunjungi. Tegal Alun. Dan here we are.. :)

Edelweis akan selalu cantik di habitatnya!

The only girls at the team

w/ Non Agata
w/ Ratna. Teman SMA yang dipertemukan kembali di BSD. :)
 Thanks Papandayan. :)

* Catatan :
1. Jakarta - Garut : Bus dari Kampung Rambutan / Pasar Rebo / Lebak Bulus
2. Garut - Camp David : Sewa Kolbak langsung atau naik angkot sampai Cisurupan dilanjutkan ngojek atau naik kolbak lagi.


“
…….
RELEVANT INFORMATION FOR THE FIELD TRIPS: Please, take into account to have with you warm clothes, waterproof jacket and trekking shoes both for the mountain field trip and the mining site.”
….”

H-7 keberangkatan email tersebut masuk ke dalam inbox saya. Memang awalnya yang saya tau akan diadakan fieldtrip ke salah satu institut yang berada di daerah dengan ketinggian 2900-an mdpl. Yang ada di pikiran saya waktu itu, pasti institut ini hanya bangunan dengan kelas-kelasnya yang berisi buku di beberapa bagian. Gak ada ekspektasi lebih untuk ngeliat salju ataupun memegangnya. Mengingat di hari keberangkatan masih peralihan dari summer ke autumn jadi saya gak berharap banyak. Yang jelas saya excited banget dengan fieldtrip kali ini karena setidaknya saya akan berkunjung ke daerah pegunungan.

Namun ketika saya tiba di lokasi, Diego dan Gioacchino memberitahukan mungkin kami masih bisa menyentuh salju disana. Ya berdoa saja kata mereka. Mendadak semangat saya menggebu-gebu untuk segera bertemu tanggal 11 September.

11 September 2014.

Pagi-pagi sekali kami harus sudah siap di lobi hotel. Setelah menyantap sarapan pagi, kamipun segera berjalan menuju parkiran Bus dan haapp begitu naik ke atas bus, kami ambil posisi masing-masing di bus. Tidak berapa lama kemudian, bus mulai berjalan. Kami diajak melewati kota sampai memutar di stasiun Pont Saint Martin. Ya semacam city tour . Sebelumnya bus kami melewati ancient roman bridge yang lagi-lagi lolos dari terjangan banjir di awal 2000an.

Suasana pedesaan sepanjang jalan menuju Monterossa!
Perjalanan pun dilanjutkan membelah kota-kota kecil. Kota kecil ini adalah kota tersepi yang pernah saya liat. Hanya ada beberapa rumah dengan mobil yang terparkir tanpa saya liat pemiliknya satu-pun. Ahh, kota ini terlalu sepi dengan dinginnya kehidupan disana.
Sepi men sepi!
Ketika bus telah berjalan sejam lamanya, mulai terlihat puncak gunung dengan salju diatasnya. Monterossa di kejauhan. Dan saya Cuma bisa bilang Subhanallah. Gunung kedua tertinggi di Italy berada sedikit dekat dengan saya. Bener-bener dekat. Alhamdulillah. Ditambah lagi tujuan kami ini adalah salah satu rangkaian Pegunungan Alpen.
Stafal - Gabiet 1825 mdpl
View dari Stafal - Gabiet
Kamipun tiba di Stafal-Gabiet 1825 mdpl. Disitu aja view nya udah keren banget, gimana view diatas sana? Gak kebayang! Keluar dari bus, masing-masing peserta mulai mengenakan jaket, sarung tangan masing-masing. Marco mengantri untuk membelikan tiket kereta gantung yang akan membawa kami ke tujuan kami. Setiap kereta gantung dapat diisi maksimal 7-8 orang. Saya memilih kereta paling terakhir.  Dari Stafal-Gabiet kami menuju Collo d`Ollen  dimana Istituto A.Mosso berada. Sebelum mencapai institute kami harus naik kereta gantung sebanyak 2 kali. Perjalanan pertama menghabiskan waktu sekitar 15 menit dan perjalanan kedua memakan waktu 30 menit. Sepanjang perjalanan dari Stafal – Gabiet pemandangan benar-benar amazing! Saya-pun mendapat penjelasan singkat mengenai geologi pegunungan ini dari Marco. Disini terdapat beberapa jenis batuan yang hampir didominasi oleh batuan metamorf, granit, dan ultra basa.

Monterossa Ski!
Begitu sampai di Collo d`Ollen, saya cuma bisa takjub. Ditambah takjub lagi ketika Luca memberitahu saya bahwa masih ada gundukan salju. Saya otomatis langsung berlari ke gondokan salju itu. Biarin deh dibilang dusun juga, yang penting ini Salju pertama saya. Huuuaaaa. Alhamdulillah. Saya tidak melihat Didit, padahal dia berada di salah satu kereta paling depan. Begitu saya mulai bermain-main salju baru datang Didit menghampiri salju pertama kami. Hahahaa..

Hari itu saya dan Didit selalu berada di barisan paling belakang, mengingat kami selalu berusaha mengabadikan momen-momen dengan kamera kami sementara peserta yang lain berjalan di depan kami. “Dyah – Thomas, come on!” , gak jarang kalimat tersebut di ucapkan para panitia ketika kami tertinggal dari rombongan. Hahaaa.. tak apalah ya. 



Setelah selesai bermain salju, kami berkumpul di sebuah bangunan, mendengarkan penjelasan Marco (lagi) mengenai batuan di daerah tersebut. Kenapa di bangunan? Gak di singkapan yang ada di sana? Yapp,, bangunan tersebut dibangun dengan tempelan batuan asli yang diambil dari daerah sekitar. Jadi kita bisa liat berbagai jenis batuan di dinding bangunan tersebut. Lengkap. Gak perlu jauh-jauh ke singkapan. Hhe. Dari penjelasan Marco, kita bisa menemukan batuan beku (batuan yang terbentuk dari pembekuan magma) seperti aplitic granite dan batuan metamorf seperti mica schist dengan mineral berbentuk planar (silimanite, biotite, mica, quartz, plagioclase), dan serpentin. Selain itu, selama terjadi proses uplift / pengangkatan dari kerak samudera dan benua yang diiringi terbentuknya fault / patahan di beberapa titik menyebabkan hydrothermal fluid menyelinap di antara rekahan-rekahan yang terbentuk. Hal ini lah yang menyebabkan kita bisa melihat beberapa batuan alterasi juga di sana.

Panorama dari Coll d` Ollen
Udah cukup puas dengan bangunan di sana, kami berjalan ke salah satu spot dimana terdapat singkapan isoclinal fold (lipatan isoklinal). Gak mau buang kesempatan, langsung saya abadikan penjelasan Marco dengan kamera yang saya bawa. Fold ini terdapat di salah satu batuan metamorf, serpentin dan mica-schist. Batuan ini merupakan batuan yang terbentuk jauh di bawah permukaan bumi, sekitar 10km. Bisa kebayang kan gimana batuan yang tadinya ada jauh di dalam bumi bisa ke ekspos ke permukaan? That`s why I love my job!! Kita dipaksa masuk ke dunia imajinasi kita,  membayangkan hal-hal yang luar biasa dengan skala raksasa terjadi di bumi ini hanya dari hasil yang tersingkap sekarang. The present is the key to the past. Fieldtrip kali ini bener-bener Geowisata banget! :)
Bapak Angelo Mosso

Istituto A. Mosso
Melintas batas melewati imajinasi kami masing-masing, kami ditarik lagi ke dunia nyata. Berpaling dari si lipatan kami segera bergerak menuju institute. Kami segera masuk ke dalam bangunan, berusaha mencari sedikit kehangatan di dalam ruangan. Kami berkumpul di salah satu ruangan, melihat presentasi dari beberapa pakar mengenai sejarah institute dan segera berkeliling institute. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok ini memiliki kajian khusus masing-masing dan saya memiliki tema hazard. Institut ini sebenarnya sedang dalam tahap pengembangan menjadi sebuah *museum*. Jadi beberapa kelompok dengan temanya masing-masing ini, memulai “kerja kelompok”. Kami diharuskan mendesain tata letak dari setiap ruang, hal apa yang harus di tambahkan sehingga institute ini dapat menjadi sarana education bagi pengunjung yang datang dan mereka setidaknya mendapatkan pembelajaran mengenai geologi dll. Saya memilih hazard karena menurut saya dibalik keindahan yang ada di Monterossa terdapat juga ‘sisi lain’ yaitu hazard yang dapat melanda kapan saja. Jadi hazard merupakan salah satu hal penting di museum ini. Setelah berdiskusi panjang lebar, kami pun segera kembali ke ruangan dimana kami pertama kali masuk.
Course
Salah satu media untuk memberikan pendidikan mengenai avalanche
Sambil menunggu kelompok lain menyelesaikan diskusinya, saya memilih keluar untuk menikmati udara segar di sana. Kali ini cuaca berpihak kepada saya. Puncak Monterossa terlihat jelas di depan saya. Tanpa ada kabut yang menghalangi pandangan. Benar – benar amazing!!! Terimakasih Allah SWT, saya bisa berdiri di sini. Allahu Akbar! 

Perjalanan hari ini ditutup dengan diskusi tengah malam di hotel dengan mata terkantuk-kantuk! Bye! Geowisata yang menyenangkan :)




Kalimantan atau Sumatera?
Ada ajakan dari teman untuk keliling Borneo satu bulan lamanya dan bakal menghabiskan lebaran di pulau seberang itu. Awalnya saya sangat sangat berminat, tetapi ada ajakan lainnya untuk mendaki Atap Sumatera di bulan September. Oh men, saya gundah gulana. Mikir sana mikir sini, akhirnya saya putuskan untuk melalangbuana ke Jambi. Bismillah. 

Perjalanan sangat panjang ini sebenernya adalah perjalanan yang tertunda. Awalnya kami merencanakan setelah UAS, tapi mendadak gagal gara-gara ada kulap. :'( Dan Alhamdulillah, awal September 2012, kami berangkat juga ke Atap Sumatera! :)

Ajak sana ajak sini, lagi-lagi perjalanan ini hanya diikuti 4 orang. Ada saya, Kang Shiddiq, Kiddy dan Regian. Karena waktu itu ceritanya baru banget lebaran, jadi kami berangkat masing-masing dengan meeting point Jambi. Saya berangkat dari Lampung dan yang lainnya berangkat dari Bandung. 

Lampung - Jambi
Saya berangkat dari Lampung menuju Jambi numpang travel. 16 jam menuju Jambi. Perjalanan malam sangat direkomendasikan kalo gak mau spot jantung. Yaa. Kalian taulah gimana supir-supir mobil kalo melintasi Jalinsum (jalan lintas sumatera). Tulangbawang-Talang Kelapa -Banyu Asin - Pangkalangresik - Bayung Lencir - Sungai Bahar dan Mestong adalah rute yang travel ini lalui. Travel ini mengambil rute Jalan Lintas Timur Palembang - Jambi. 

Begitu tiba di Jambi, saya langsung diantarkan ke agen travel AYU selanjutnya yang akan membawa kami menuju Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci. Travel Ayu ini berada di Jln. Pattimura atau biasa dikenal daerah Kuburan Cina. Warga Jambi relatif lebih mengenal nama daerahnya ketimbang nama jalan. Soalnya saya sempat bertanya ke beberapa orang dan mereka malah lebih mengenal sebutan Kuburan Cina. 
Setiap perjalanan, mendatangkan orang-orang baru. 
Saya setuju pisan dengan kalimat itu. Jadi ceritanya, waktu di dalem travel saya mendapatkan kenalan baru, Mbak Arum, seorang mahasiswi Kedokteran. Saya sempet singgah di kosan mbak Arum, ngerepotin mbak Arum. Aaaaa.  Makasih Mbak Arum buat tumpangannya di Jambi :) 
Makan siang yang sangat telat! :")

Jambi – Sungai Penuh (Kerinci)
Pukul 19.22 WIB travel yang kami tumpangi segera meluncur menuju Kerinci. Mobil segera menuju pinggiran kota, sampai akhirnya berbelok ke suatu jalan yang sangat lurus-panjang namun gelap. Sinyal handphone  langsung berubah menjadi SOS sepanjang jalan ini. Pertunjukan dimulai! Perut kami sudah mulai dikocok-kocok, padahal jalan yang kami lalui hanya jalan lurus saja. Untungnya jalanan masih bagus, hanya di beberapa spot jalanan rusak. Tapi, tetap saja perut kami terkocok. Setelah habis sampai di ujung jalan ini, langsung Jalan Lintas lainnya yang kami jumpai. Truk-truk besar mendominasi jalanan ini. Alamak. Makin jempalitan jantung ini. Perjalanan benar-benar tegang. Kami yang tadinya masih mengobrol satu sama lain, sekarang sibuk sendiri-sendiri. Saya yang berusaha untuk tidur dan akhirnya tidak bisa tidur memilih *menikmati* perjalanan kali ini. Mulut komat kamit mengucap segala macam doa, mata menatap lurus ke depan melihat mobil yang disalip dan mobil dari arah berlawanan. Mata baru bisa terpejam ketika jalanan sepi. Setidaknya kalau jalanan sepi travel yang kami tumpangi tidak akan menyalip mobil-mobil lainnnya. Ohiya, ada satu hal yang unik. Sepanjang perjalanan, sopir travel ini memasang musiknya Peterpan dan band-band Indonesia lainnya. Untung saja.  Yaa, kami masih bisa-lah mengikuti lirik yang ada. J 

Pukul 22.00 WIB. Kami beristirahat di negeri antah berantah. Tidak ada plang yang menunjukkan nama daerah itu. Disini, kami memesan susu manis hangat untuk mengganjal perut yang telah dikocok-kocok. Tak kurang dari 45 menit mobilpun melaju. Jalanan yang sepi – gelap membuat mata kembali terpejam. Ya walaupun terkadang saya terbangun dan begitu melihat daerah sekitar yang saya lihat Cuma gelap – gelap – dan gelap. Yang jelas jalanan ini sudah mulai berkelok – kelok. Berarti kami sudah melewati daerah Bangko. Udara pun sudah mulai dingin.
Travel Ayu 
Selama perjalanan kami istirahat sebanyak 2 kali. Jalan yang kami lalui setelah istirahat yang kedua adalah  bukit-bukit kecil. Serupa dengan perjalanan ke Bromo dan Sembalun , pintu masuk ke Gunung Rinjani. Melewati punggungan bukit, berkelok-kelok, dan gelap. Untungnya kali ini mobil tidak begitu ngebut. Alhamdulillah. Sekitar pukul 04.30 WIB kami tiba di Sungai Penuh! Perjalanan yang sangat panjang dan sangat memacu adrenalin! 500 kilometer kami tempuh dari Jambi untuk sampai ke kota ini. 

Perjalanan menuju Gunung Kerinci masih belum selesai disini. Masih ada 30 km lainnya. Yak. Kami masih harus menumpang angkutan desa dari Sungai Penuh ke Kayu Aro sebelum melakukan pendakian ke Atap Sumatera!

Suasana pagi hari di Sungai Penuh sangat sejuk. Kota ini dikelilingi oleh dataran tinggi di sekitarnya. Serupa dengan Bandung, dikelilingi dataran tinggi di sekitarnya. Tak ayal, udara sejuk menjadi hal biasa di daerah itu. Orang beramai-ramai ke Pasar untuk menjajakkan dagangannya dan sebagian lainnya berlaku sebagai pembeli. Sebuah simbiosis  mutualisme di kehidupan yang sebenarnya. 


MORNING SUNGAI PENUH! 
34 jam lamanya dari Lampung sampai Sungai Penuh yang sangat WOW .

.....bersambung
Ehmm..
Kalo ditanya "Ngapain sih Yah kamu naik gunung, capek-capekin badan aja". Saya bakal jawab " Gatau ya, naik gunung itu rasanya damai. Cobain sekali dan kalian pasti akan ketagihan" Well. Bagi saya gunung itu tempat “pelarian” disaat saya suntuk, pikiran njlimet, capek, plus disaat galau menyerang kerajaan api! #eh. Pikiran saya rasanya bakal langsung jernih waktu saya liat semuamuamua yang serba hijau. Rasanya kok Allah itu super duper baik banget nyiptain gunung dan lautan ini buat manusia yang terkadang malah merusaknya. 





Di gunung itu, semuanya jadi complicated. Cuaca yang awalnya cerah - mendadak bisa jadi badai hujan. Kabut yang sering datang gak diundang pulang gak dianter. Yang jelas gunung itu rumah kedua buat saya - satu satunya tempat dimana saya bisa ngerasain damai dan di gunung juga semua emosi manusia berkumpul. 
Waktu kita naik gunung, semua rasa bakal kita rasain. Gimana rasa capeknya berjalan selama berjam-jam dengan medan yang berat dan semua rasa capek kita bakal bener-bener kebayar waktu ngeliat view dari atas gunung. Gimana rasa bersyukur kita terhadap Allah SWT buat ciptaanNYA yang megah ini. Gimana kita yang harus nahan emosi satu sama lain dalam kelompok perjalanan, ngelepasin ego masing-masing biar perjalanan  lancar, Gimana kita ngerasa kecil dibanding ciptaan-NYA, Gimana kita harus sama-sama berbagi, Gimana kita harus ngelawan LIMIT dari diri kita sendiri. Dan Gimana kita menganggap makna penting di balik perjalanan itu sendiri. Yang jelas dalam setiap perjalanan selalu ada makna yang bisa dipetik. Yang terpenting dari sebuah perjalanan adalah prosesnya. :)

Buat sampai ke puncak itu butuh perjuangan
Tapi sayang, makin ke sini, gunung yang mungkin bertahun-tahun lalu masih bener-bener hijau sekarang udah tercemar sama sampah-sampah dari para pendaki :’(. Saya juga masih dalam proses belajar buat hal yang satu ini. Ehmm, seenggaknya waktu naik gunung bawa turun sampah yang kalian bawa deh. Untung-untung bisa membawa sampah yang udah ada di sana. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal melestarikan gunung? Sama satu lagi, jangan melakukan kegiatan vandalisme di gunung. Corat sana coret sini, buat sampai di atas sana aja udah capek, masih aja ya kepikiran buat nyoret-nyoret pohon dan batu.  Beneran deh, mereka akan lebih cantik kalo gak di rusak. Terus jagalah habitat anaphalis javanica alias bunga edelweis. Pliss siapapun yang mau naik gunung jangan metik bunga ini buat oleh-oleh. Oleh2 bisa lewat poto aja kan? Poto jauh bisa lebih berbicara tentanh apa yang ada di atas sana dibanding metikin bunga edelweis. Anaphalis javanica ini bonus buat semua jerih payah kita untuk bisa sampe ke atas sana dan kalo dipetikin terus kasian pendaki lainnya yang ingin menikmati indahnya edelweis di habitat asli mereka. Mereka akan lebih cantik di sana - di habitat aslinya. :’) 
Batu yang udah dicoretcoret sama oknum  gak bertanggungjawab :(
Sampah dimana-mana :(

Ayo, lestarikan gunung agar anak cucu kita bisa merasakan indahnya mereka! :’)
Cuma ada di gunung!


Anaphalis Javanica
Postingan Lama Beranda

About Me

Foto saya
deem
Dyah. Geologist. ALSTE 2009. HMGUNPAD. Love traveling. Live your life!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • My 2nd Pregnancy
  • ►  2021 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (17)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2011 (33)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (80)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (10)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  September (2)

Popular Posts

  • (Review) Beberapa Vendor Pernikahan di Bandar Lampung
  • Salam 2013 dari Desa Tertinggi di Pulau Jawa (Gunung Sikunir, Desa Sembungan)
  • My 2nd Pregnancy
  • Pasir Timbul, Pantai Sari Ringgung, Lampung
  • Dewi Wara Sembadra

Copyright © 2016 Catatan Deem. Created By OddThemes & Distributed By MyBloggerThemes