Catatan Deem

Awalnya saya gak berekspektasi tinggi waktu diajak kakak saya ke waterpark. Tapi waktu kakak saya ngomong Slanik Waterpark saya langsung kepo. Dan ternyata saudara-saudara, dari hasil perkepoan saya, saya jadi excited buat ke sana (maklum lagi butuh liburan, HAHAA)



Slanik Waterpark ini terletak di Jln. Raya Karang Anyar, Karang Turi, Jati Agung, Lampung Selatan, sekitar 17 km dari Stasiun Tanjung Karang (kalau buka di Google Maps, pasti langsung diarahin). Setelah nanya mbah Google, ada beberapa alternatif rute dari rumah saya menuju Slanik Waterpark ini. Yang pertama lewat Jln. Untung Suropati - R.A Basyid ; Jln. Sultang Agung - Ki Maja - Ratu Dibalau ; atau yang terakhir Jln. Sultan Agung- Rya Cudu (Korpri). 
Lokasi Slanik Waterpark (diunduh dari Google maps) 
Karena rumah saya lebih dekat dan kami lebih familiar dengan Jln. Untung Suropati, kami pun melewati jalan tersebut. Tapi semenjak melewati Jalan Soekarno Hatta dan mulai memasuki Jln. R.A Basyid, makin ke dalam jalan semakin jelek alias berlubang. Entahlah sepertinya hujan membuat kondisi jalan makin berlubang-lubang. Alhasil selama perjalanan, bapake pun mengendarai mobil pelan-pelan. Jalanan terus berlubang sampai ketemu Kantor Pos Karang Anyar. Selebih nya jalanan muluusssss sampai Slanik Waterpark. Untuk jalan pulang, kami lebih memilih untuk melewati Korpri, berharap jalan lebih mulus dibanding jalan RA Basyid.  😁

Awalnya kami sempet kebablasan karena tidak ada baliho/papan petunjuk Slanik Waterpark. Slanik Waterpark sendiri berada di elevasi yang lebih rendah dari jalan raya. Jadi kalau ada banyak mobil yang diparkir di pinggir jalan, bisa jadi penanda kalau anda sudah sampai Slanik, tapi kalau masih sepi bisa memelankan laju kendaraan sambil melirik bagian kiri jalan. 
Slanik Waterpark dari pinggir jalan
Setelah sampai di Slanik Waterpark, kondisi sudah penuh dengan pengunjung.  Padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.00 WIB (Slanik baru buka pukul 09.00 WIB). Ohiya, biasanya setiap hari Senin, Slanik tutup, tapi berhubung hari Senin kemarin adalah tanggal merah, Slanik gak jadi tutup alias buka. Horray!!!Untuk jadwal Slanik Waterpark dan harga tiket bisa di cek di sini atau IG Slanik. 

Karena parkir sudah penuh, mobil bapake pun di parkir di atas. Untuk tarif parkir mobil adalah sebesar Rp 5.000,- saja (murah ya?!). Harga tiket masuk pun ndak terlalu mahal, cuma kalo pas weekend/hari besar/tanggal merah ya lumayan lah. Selain harga tiket, harga makanan di sana pun menurut saya masih dalam tingkat manusiawi dengan pilihan makanan cukup banyak. Ada nasi goreng, mie ayam, bakso, gado-gado, sosis bakar, dan menu wajib di setiap lokasi wisata -pop mie-😃
Kantin
Wahana di Slanik Waterpark pun lumayan banyak. Dari wahana khusus untuk anak-anak sampai wahana yang menguji adrenalin. Di Octopus Kids Fun, bisa menjadi wahana anak-anak untuk bermain air. Rata-rata wahana ini digunakan oleh anak-anak beserta orang dewasa yang mendampinginya. Sampai siang pun wahana ini masih ramai dipenuhi pengunjung. Kebayang dong makin siang panasnya gimana?! Tangan saya langsung merah-merah gosong song gosong! 😓

Octopus Kids Fun

Octopus Kids Fun
 Ada wahana Dragon River yang mengelilingi Octopus Kids Fun. Para pengunjung wajib menggunakan ban yang disewakan oleh Slanik Waterpark. Untuk ban besar dikenakan harga sewa sebesar Rp 35.000,- dengan uang jaminan Rp 15.000,- Ban yang disewakan ini juga bisa digunakan untuk wahana lainnya seperti Fast2Furious. Selain Octopus Kids Fun, ada Dragon River yang mengelilingi Octopus Kids Fun. Berhubung waktu ke Slanik bawa keponakan, jadi sebagian besar saya main di wahana anak-anak. Cuma sekali aja main ke Fast2Furious bareng kakak.  
Dragon River
Dragon River
Pertama kali main di Fast2Furious, rasanya waassss weesss wooosssss kayak pingin terbang! Dan sepanjang luncuran kami, saya komat kamit Istighfar, sampe-sampe kakak saya ceng-cengin saya. Pingin nyoba lagi sih, eh tapi kakak saya gak mau, kata doi "udah berumur gue, gak lagi-lagi deh!". *tapi saya yakin ini alibi dia doang, wkwkwk! yaudah deh cukup sekali saja mainnya.  Ya masih bisa main lain kali deh ke sana lagi. 😃. Yang jelas, Slanik Waterpark bisa jadi salah satu alternatif untuk liburan bareng keluarga! 😃

Fast2Furious

Pasir Timbul 
Wisata pantai saat ini menjadi salah satu wisata favorit selain wisata gunung. Tak ayal, Lampung pun yang realatif dekat dari Ibukota  menjadi salah satu destinasi favorit untuk para penghuni kota Jakarta dalam menghabiskan weekend mereka. Lampung pun makin berbenah diri, makin melebarkan sayapnya untuk wisata pantai. Beberapa lokasi di kawasan Lampung yang sudah santer terdengar diantara para pecinta pantai adalah sebagai berikut Kiluan, Krakatau Pulau Pisang dan Pahawang - Tanjung Putus.

Beberapa bulan terakhir ini kabar mengenai Pantai Sari Ringgung makin santer terdengar. Dari sebuah baliho di salah satu jalan utama di Bandar Lampung, saya mulai mengetahui akan keberadaan pantai tersebut. Satu hal yang membuat saya tertarik dengan pantai ini adalah adanya Pasir Timbul di dekat pantai mereka. Diiringi rasa penasaran akan Pasir Timbul tersebut, saya beserta Gilang akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana. :)

How to get there?
Dari pelabuhan Bakauheni, pantai ini berjarak sekitar 102 km. Untuk mencapai Bakauheni sendiri dari Merak banyak kapal yang melayani trayek Merak-Bakauheni 24 jam non-stop. Merak-Bakauheni memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan. Kalau lagi apes ya bisa sampe 4 jam-an (tergantung ramai/tidaknya penumpang, cuaca, dll). Tapi rata-rata sih sekitar 2-3 jam.

Perjalanan menuju Pantai Sari Ringgung ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam via darat dari Bakauheni. Kalau starting point nya dari kota Bandar Lampung, kita cuma butuh sekitar 45 menit perjalanan atau sekitar 25 km (kemarin saya ke sana naik motor), kalau mobil bisa lebih lama mengingat ada beberapa titik yang suka macet. 
Bakauheni-Pantai Sari Ringgung (Di unduh dari google maps June 4th 2015, 12.11 PM)
Selain Pantai Sari Ringgung, di sekitar pantai ini banyak pantai-pantai lainnya yang sebenernya juga gak kalah cantik. Ada pantai Mutun, Klara, Duta Wisata, Tirtayasa, dll. Pantai Sari Ringgung sendiri terletak sebelum Pantai Klara. Jadi kalau udah ketemu dereta Pantai Duta Wisata, Tirtayasa, Mutun, lanjutkan perjalanan terus sampai melewati Hanura. Setelah Hanura baru deh kita akan ketemu pantai ini. Di pintu masuk nya sangat terlihat jelas Baliho Pantai Sari Ringgung. Saya yang baru pertama kali ke sana, sempet sedikit bimbang soalnya sudah melewati Hanura-pun masih belum ketemu juga. Udah niat mau nanya ke orang, eh alhamdulillah ketemu juga. Dan ternyata memang pantai ini terletak setelah Hanura. Hihiii.

Welcome to Pantai Sari Ringgung
Welcome To Pantai Sari Ringgung
Pantai ini gak terletak di pinggir jalan, kita harus masuk dulu ke dalam baru deh nemuin view seperti gambar di atas ini.  View di atas diambil di Krakatau view (ada di atas bukit). Untuk motor dikenakan biaya Rp 25.000,-  Karena pantai ini masih relatif baru dipugar, jadi keadaan di dalam masih relatif rapih, bersih dan terawat. Ombakpun gak terlalu berbahaya untuk anak-anak. Sangat pas untuk rekreasi keluarga. 

Sepanjang Bibir Pantai
Selain Pasir Timbul yang menjadi daya tarik pantai ini, masih ada beberapa aktivitas lainnya di pantai ini. Kita bisa main kano, banana boat, dan bebek-bebekan. Selain itu pantai ini juga dilengkapi waterboom mini sebagai fasilitas untuk anak-anak. 

Aktivitas di Pantai Sari Ringgung
Hihiii. Berhubung tujuan saya cuma Pasir timbul, setelah melepas lelah di pondokan (untuk penyewaan pondokan kecil dihargai Rp 50.000,- dan besar Rp 100.000,-) kami segera melanjutkan perjalanan dengan kapal yang kami sewa. Satu kapal dikenai tarif Rp 130.000,- antar jemput ke Pasir Timbul (maksimal 10 orang) dan berhubung kami cuma berdua saja akhirnya kami share cost dengan pengunjung lainnya. Masuk ke Pasir Timbul pun ada tiketnya seharga Rp 5.000,- per orang. Sebenarnya ada Pulau lain di seberang pantai ini, Pulau Tegal. Tapi tarif untuk ke pulau ini relatif mahal. Satu kapal dikenai tarif Rp 200.000,-  Kemarin sih kami ditawari ke Pulau Tegal dengan biaya tambahan sekitar Rp 15.000,- sampai Rp 25.000,- tapi tidak kami ambil trip tambahan itu. Hehe.

Lepas dari pantai Sari Ringgung, kapal akan bergerak menuju Masjid Terapung yang terletak tidak jauh dari bibir pantai. Ada juga kapal yang siap mengantar kita langsung ke Masjid ini, tapi melihat dari kejauhan juga sudah cukup. :) Perjalanan menuju Pasir Timbul memakan waktu sekitar 10-15 menit. Selama perjalanan kita akan disuguhkan beberapa bangunan yang awalnya saya kira adalah rumah warga tetapi ternyata keramba. Tapi bener deh mirip rumah banget apalagi disekitarnya ada masjid terapung. Hhee
Masjid Terapung
Keramba

Akhirnya kami tiba di Pasir Timbul. Siang itu suasana cukup ramai. Ohiya, di pasir timbul ini terdapat beberapa pondokan terapung yang harga sewanya lumayan mahal (Rp 100.000,-) dan juga dermaga yang akan mengantarkan kita ke Pasir Timbul ini. hihiii.. Kalau gak menyewa pondokan kita masih bisa duduk-duduk di pinggir pondokan. Free. Saran saya jangan lupa membawa baju ganti mengingat dari dermaga ke pantai kalau lagi pasang lumayan bikin celana basah. Hihiii.. 


Pasir Timbul (Di unduh dari google maps June 4th 2015, 12.11 PM)

Pasir Timbul




Alhamdulillah, akhirnya kaki saya kembali menjejaki salah satu pulau terbaik di Lampung. Pulau yang mungkin belum setenar Teluk Kiluan. Aaaaa, mereka harus tau Lampung punya potensi wisata alam yang besar di Pulau ini.  Rasa lelah 7 jam perjalanan langsung terbayarkan dengan putihnya pasir pantai di pulau ini. Subhanallah :)

Pulau Pisang
Setibanya di Pulau Pisang kami langsung menuju salah satu rumah penduduk asli di Pulau Pisang ini yang masih saudara dengan temannya teman kami. Rumah-rumah di pulau ini sebagian masih berbentuk rumah panggung dan rumah yang kami tinggali-pun masih berbentuk rumah panggung. Untuk mandipun masih menggunakan sumur yang harus dipompa dengan kedua tangan. Terimakasih para partner yang udah nimbai-in air buat mandi. Hihiii. Sayangnya, sebagian rumah di sini sudah ditinggalkan penghuninya merantau ke Lampung atau kota-kota disekitarnya dan dibiarkan begitu saja sehingga kesannya jadi kurang terawat :(.
Bergaya di depan rumah 

Rumah Panggung
Setelah melepas lelah sejenak, kami mulai berkeliling ke ujung pulau ini, mencari spot yang pas untuk menikmati matahari tenggelam. Selain itu, di ujung pulau ini terdapat sebuah kapal karam yang terdampar (udah macam ikan duyung aja pake terdampar segala, hihihi). Sayang sekali semesta sedang tidak mendukung para pemburu sunset ini. Awan mendung menutupi matahari yang pelan-pelan mulai hilang tergantikan dengan bulan. Walaupun mendung, setidaknya langit jingga masih tampak di kejauhan walaupun sedikit. Ohiya, para lelaki nekat buat naik ke kapal karam itu, emang sih ada ban yang diikat tali dan ada kayu yang bisa dipakai buat jadi pijakan, tapi saya yang notabene takut ketinggian memilih untuk duduk santai di pinggir pantai sambil menikmati deburan ombak (so(k) nyantai). Beneran saya langsung lemes waktu ngelewatin karang-karang disana dan ngeliat kebawah dimana ombak udah siap nyergap kita. Usut punya usut ban + tali itu udah lama bergelantungan di atas sana. Untungnya masih kokoh menahan beban 5 orang. :)


Hi, you, Sun!

Kapal Karam

Harusnya Pulau Kelapa bukan Pulau Pisang! Hha
Sekitar pukul 17.30 WIB kami sudah harus kembali mengingat keadaan disana sangat sepi dan listrik hanya menyala dari maghrib sampai pukul 22.00 WIB. Setibanya di rumah kami telah disiapkan sebuah makan malam yang menurut kamu WAH sekali. Baru kali ini kami disuguhi kepiting yang di kota-pun jarang kami santap namun disini sudah jadi makanan sehari-hari warga Pulau Pisang. Wah, bener-bener maknyooss!!! :) Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk menikmati malam di pinggir pantai. 

Kepitingnya Maknyooss!!!
Malem itu. cuaca lagi ceraaaah secerah-cerahnya. Bintang bertaburan banyaaak banget di langit. Baru kali itu saya liat bintang sebanyak itu. Jauh dari polusi, cahaya kota yang sedikit, dan gak ada awan yang menutupi menambah jelas si bintang tadi. Ambil posisi dan HAAAPPPP kami udah di posisi masing2. Tiduran sambil menatap langit. Udah macam meteor garden aja, 1 cewek dan 4 cowok. Hahaha. Sempat beberapa kali kami melihat bintang jatuh, saya menyimpulkan satu kali kita melihat bintang jatuh, coba lihat disekitar area bintang jatuh tersebut, pasti ada bintang lain yang ikutan terjatuh juga. Hihiii. 

Udah ada suara deburan ombak, bintang nan bejubel di langit, bulan, kurang apalagi??? Kurang satu hal yaitu LAGU. Mendadak playlist malem itu dipenuhi lagu-lagu mellow dan suasana hati langsung berubah jadi galau. #eeaaa. Hahaha. Suasana malem itu bener-bener ngedukung banget deh buat galau #eh #eh. HAHA
Sebelum masuk angin, kamipun kembali ke rumah dan siap-siap tidur untuk bangun pagi esok hari ! Yeeaay

*********

Bangun pagi-pagi langsung main ke dermaga. Disana udah banyak anak-anak Pulau Pisang yang lagi mancing. Aaaa.. Saya selalu suka wajah polos mereka :). Bener-bener polos :)



Masa Kecil Kurang Bahagia



Berhubung kami pada belum mandi pagi semua, kami langsung menceburkan diri ke air laut. Berdiri di air sambil menunggu ombak besar datang menabrak tubuh kami dan kami langsung tertawa ketika ombak membawa kami ke pantai. Bener-bener MKKB alias masa kecil kurang bahagia !!! Hihiii.. Berkali-kali kami melakukan hal yang sama, berdiri - tertabrak ombak - tubuh terbawa ombak sampai pantai - lalu tertawa senang sambil mengeluarkan pasir di dalam saku kami. Moment nya dapet banget! :). Tunggu kedatangan saya selanjutnya :)


Terimakasih Pulau Pisang, Terimakasih juga buat matahari sore tanggal 14 Agustus 2013 nya yang menemani perjalanan pulang kami. :) Terimakasih buat Gibran yang udah jadi driver tangguh sumatera bolak-balik 14 jam duduk di bangku paling depan. . :) Terimakasih Kamal 1 dan Kamal 2 serta Mandala buat 2 harinya. Terimakasih :)

Motif khas masyarakat Pesisir Lampung 

Pulau Pisang

Perjalanan saya bersama 4 rekan saya ini bisa dibilang salah satu perjalanan terjauh buat saya di daerah kelahiran saya, Lampung. Lagi-lagi partner ngebolang saya ke Pulau Pisang ini adalah @gibransesunan , teman seperjuangan dari SD-SMP dan teman SMP kami @irsydkamal dan @mandaala serta salah satu sepupu dari gibran, kamal. 

Pagi-pagi sekali kami berlima kumpul di rumah saya di daerah Kedaton dengan asumsi rumah saya adalah rumah paling dekat dengan jalan utama menuju Pulau Pisang. OKE lah, saya bisa duduk-duduk manis menunggu kedatangan mereka. Gak harus buru-buru nyamperin ke rumah Gibran yang biasanya dijadikan beskem kami. Hihii. Sekitar 1 jam menunggu, pasukan pun lengkap, amunisi dimasukkan ke mobil dan here we go, Pisang Island! :) Bismillahirrohmanirohim.

Jalan menuju Pulau Pisang ini bener-bener panjang. Melewati daerah Pringsewu sampai ke Kota Agung bahkan membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang notabene masih hutan alami. Sebelum memasuki TNBBS ini-pun jalanan lumayan terjal, sampai saya sempat melihat sebuah spanduk di tikungan bertuliskanjalan"Jangan Kecelakaan Disini, Rumah Sakit Jauh". Emang bener sih, rumah sakit terdekat berada di Kota Agung. Jangankan Rumah Sakit, Pom Bensin masih sejam lagi dari daerah ini, warung yang menjual BBM pun berjarak sekitar 15 menit. Bener-bener jauh dari kehidupan manusia jalanan disana. Satu lagi, SEPI dengan mobil. Mobil yang melewati daerah ini bisa dihitung dengan jari.  

Memasuki daerah TNBBS, suasana menjadi adem. AC mobil kami matikan dan kami rasakan AC alami ini. Bener-bener segeeerr udaranya. Suara segerombolan monyet yang bersahut-sahutan menambah lengkap perpaduan hutan ini. Di beberapa titik kalo kita beruntung bisa kita lihat monyet yang berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Satu jam membelah hutan TNBBS, akhirnya pemandangan yang kami lihat berubah.  Saya yang ketiduran (atau sengaja tidur?) mendadak bangun. Suasana yang tadinya hutan hutan hutan, daun daun daun sekarang berubah 90 derajat menjadi Pantai. Yihaaaa, ombak Samudera Hindia udah manggil-manggil kami. Sebenernya saya masih trauma dengan ombak setinggi pohon gara-gara kunjungan saya ke Ujung Genteng, setahun silam. Tetapi, jujur ombak disana terlihat gagah menabrak batuan di pinggiran pantai sepanjang jalanan yang kami temui. Satu jam berada di pinggir pantai, kamipun memasuki wilayah Tanjung Setia. Salah satu spot paling OK di Lampung untuk menikmati matahari tenggelam dan spot paling OK juga buat para surfer. Tanjung Setia ini juga yang menjadi salah satu penarik wisatawan asing bagi Propinsi Lampung sendiri. 

Setibanya di Krui, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar satu jam lagi. Tujuan kami kali ini adalah Dermaga Tembakak. Lagi-lagi saya speechless dibuatnya, setelah melewati 0 mdpl, kami harus naik lagi membelah bukit-bukit dan pemandangan dari bukit-bukit ini bener-bener tokcer. Sang Ombak  yang gagah menghantamkan tubuhnya di karang-karang, mengorbankan diri mereka sendiri menjadi buih-buih sebelum kembali lagi ke laut. Ah, saya selalu suka mereka, batu, ombak, langit, laut, gunung. Kuasa Allah SWT memang benar-benar luar biasa. 

Dermaga Tembakak ini berada di pinggir jalan. Awalnya kami sempat kelewatan sedikit, tetapi terlihat sebuah kapal tradisional berisikan sekitar 10 manusia berlayar melawan ganasnya ombak Samudera Hindia membuat kami berbalik arah. Oh God, dermaga tembakak adalah dermaga alami. Sempet jiper juga dibuatnya. Jadi kita naik si Kapal dari pantai, pantai di dorong melawan ganasnya ombak sampai ombak sedikit tenang dan mesin pun dinyalakan. Saran saya simpan barang - barang elektronik di tempat yang kedap air kalo gak mau kebasahan :). Ketika berangkat saya aman (gak basah) . Di percobaan selanjutnya (baca : perjalanan pulang dari Pulau Pisang - Tembakak) saya basah kuyup dibuatnya. Memang sih, kali ini kami dibantu oleh ombak yang menuju ke pantai, tapi eh tapi udah mau sampai pantai dan kapal lagi didorong agar segera sampai ke pantai, ombak besar datang dan wuuusssssshhh, saya yang berada paling belakang langsung jadi basah dibuatnya. Belum selesai satu ombak datang lagi ombak lainnya, dan wuuuzzzz Basah lagi. Hahaha.   


Warung di depan dermaga

Dermaga Tembakak

Perahu yang membawa kami ke Pulau Pisang, liat ombaknya tuh!
Bikin jiper!!!

#Eh ada motor

Kapal di dorong melawan ombak

Kamal 1


Wajah agak takut pas kapal di dorong

Gibran

Mandala
Kamal 2
  Pisang Island, we`re coming!!!
Pulau Pisang
Postingan Lama Beranda

About Me

Foto saya
deem
Dyah. Geologist. ALSTE 2009. HMGUNPAD. Love traveling. Live your life!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • My 2nd Pregnancy
  • ►  2021 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (17)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2011 (33)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (80)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (10)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  September (2)

Popular Posts

  • (Review) Beberapa Vendor Pernikahan di Bandar Lampung
  • Salam 2013 dari Desa Tertinggi di Pulau Jawa (Gunung Sikunir, Desa Sembungan)
  • My 2nd Pregnancy
  • Pasir Timbul, Pantai Sari Ringgung, Lampung
  • Dewi Wara Sembadra

Copyright © 2016 Catatan Deem. Created By OddThemes & Distributed By MyBloggerThemes