Catatan Deem

Pasir Timbul 
Wisata pantai saat ini menjadi salah satu wisata favorit selain wisata gunung. Tak ayal, Lampung pun yang realatif dekat dari Ibukota  menjadi salah satu destinasi favorit untuk para penghuni kota Jakarta dalam menghabiskan weekend mereka. Lampung pun makin berbenah diri, makin melebarkan sayapnya untuk wisata pantai. Beberapa lokasi di kawasan Lampung yang sudah santer terdengar diantara para pecinta pantai adalah sebagai berikut Kiluan, Krakatau Pulau Pisang dan Pahawang - Tanjung Putus.

Beberapa bulan terakhir ini kabar mengenai Pantai Sari Ringgung makin santer terdengar. Dari sebuah baliho di salah satu jalan utama di Bandar Lampung, saya mulai mengetahui akan keberadaan pantai tersebut. Satu hal yang membuat saya tertarik dengan pantai ini adalah adanya Pasir Timbul di dekat pantai mereka. Diiringi rasa penasaran akan Pasir Timbul tersebut, saya beserta Gilang akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana. :)

How to get there?
Dari pelabuhan Bakauheni, pantai ini berjarak sekitar 102 km. Untuk mencapai Bakauheni sendiri dari Merak banyak kapal yang melayani trayek Merak-Bakauheni 24 jam non-stop. Merak-Bakauheni memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan. Kalau lagi apes ya bisa sampe 4 jam-an (tergantung ramai/tidaknya penumpang, cuaca, dll). Tapi rata-rata sih sekitar 2-3 jam.

Perjalanan menuju Pantai Sari Ringgung ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam via darat dari Bakauheni. Kalau starting point nya dari kota Bandar Lampung, kita cuma butuh sekitar 45 menit perjalanan atau sekitar 25 km (kemarin saya ke sana naik motor), kalau mobil bisa lebih lama mengingat ada beberapa titik yang suka macet. 
Bakauheni-Pantai Sari Ringgung (Di unduh dari google maps June 4th 2015, 12.11 PM)
Selain Pantai Sari Ringgung, di sekitar pantai ini banyak pantai-pantai lainnya yang sebenernya juga gak kalah cantik. Ada pantai Mutun, Klara, Duta Wisata, Tirtayasa, dll. Pantai Sari Ringgung sendiri terletak sebelum Pantai Klara. Jadi kalau udah ketemu dereta Pantai Duta Wisata, Tirtayasa, Mutun, lanjutkan perjalanan terus sampai melewati Hanura. Setelah Hanura baru deh kita akan ketemu pantai ini. Di pintu masuk nya sangat terlihat jelas Baliho Pantai Sari Ringgung. Saya yang baru pertama kali ke sana, sempet sedikit bimbang soalnya sudah melewati Hanura-pun masih belum ketemu juga. Udah niat mau nanya ke orang, eh alhamdulillah ketemu juga. Dan ternyata memang pantai ini terletak setelah Hanura. Hihiii.

Welcome to Pantai Sari Ringgung
Welcome To Pantai Sari Ringgung
Pantai ini gak terletak di pinggir jalan, kita harus masuk dulu ke dalam baru deh nemuin view seperti gambar di atas ini.  View di atas diambil di Krakatau view (ada di atas bukit). Untuk motor dikenakan biaya Rp 25.000,-  Karena pantai ini masih relatif baru dipugar, jadi keadaan di dalam masih relatif rapih, bersih dan terawat. Ombakpun gak terlalu berbahaya untuk anak-anak. Sangat pas untuk rekreasi keluarga. 

Sepanjang Bibir Pantai
Selain Pasir Timbul yang menjadi daya tarik pantai ini, masih ada beberapa aktivitas lainnya di pantai ini. Kita bisa main kano, banana boat, dan bebek-bebekan. Selain itu pantai ini juga dilengkapi waterboom mini sebagai fasilitas untuk anak-anak. 

Aktivitas di Pantai Sari Ringgung
Hihiii. Berhubung tujuan saya cuma Pasir timbul, setelah melepas lelah di pondokan (untuk penyewaan pondokan kecil dihargai Rp 50.000,- dan besar Rp 100.000,-) kami segera melanjutkan perjalanan dengan kapal yang kami sewa. Satu kapal dikenai tarif Rp 130.000,- antar jemput ke Pasir Timbul (maksimal 10 orang) dan berhubung kami cuma berdua saja akhirnya kami share cost dengan pengunjung lainnya. Masuk ke Pasir Timbul pun ada tiketnya seharga Rp 5.000,- per orang. Sebenarnya ada Pulau lain di seberang pantai ini, Pulau Tegal. Tapi tarif untuk ke pulau ini relatif mahal. Satu kapal dikenai tarif Rp 200.000,-  Kemarin sih kami ditawari ke Pulau Tegal dengan biaya tambahan sekitar Rp 15.000,- sampai Rp 25.000,- tapi tidak kami ambil trip tambahan itu. Hehe.

Lepas dari pantai Sari Ringgung, kapal akan bergerak menuju Masjid Terapung yang terletak tidak jauh dari bibir pantai. Ada juga kapal yang siap mengantar kita langsung ke Masjid ini, tapi melihat dari kejauhan juga sudah cukup. :) Perjalanan menuju Pasir Timbul memakan waktu sekitar 10-15 menit. Selama perjalanan kita akan disuguhkan beberapa bangunan yang awalnya saya kira adalah rumah warga tetapi ternyata keramba. Tapi bener deh mirip rumah banget apalagi disekitarnya ada masjid terapung. Hhee
Masjid Terapung
Keramba

Akhirnya kami tiba di Pasir Timbul. Siang itu suasana cukup ramai. Ohiya, di pasir timbul ini terdapat beberapa pondokan terapung yang harga sewanya lumayan mahal (Rp 100.000,-) dan juga dermaga yang akan mengantarkan kita ke Pasir Timbul ini. hihiii.. Kalau gak menyewa pondokan kita masih bisa duduk-duduk di pinggir pondokan. Free. Saran saya jangan lupa membawa baju ganti mengingat dari dermaga ke pantai kalau lagi pasang lumayan bikin celana basah. Hihiii.. 


Pasir Timbul (Di unduh dari google maps June 4th 2015, 12.11 PM)

Pasir Timbul




Alhamdulillah, akhirnya kaki saya kembali menjejaki salah satu pulau terbaik di Lampung. Pulau yang mungkin belum setenar Teluk Kiluan. Aaaaa, mereka harus tau Lampung punya potensi wisata alam yang besar di Pulau ini.  Rasa lelah 7 jam perjalanan langsung terbayarkan dengan putihnya pasir pantai di pulau ini. Subhanallah :)

Pulau Pisang
Setibanya di Pulau Pisang kami langsung menuju salah satu rumah penduduk asli di Pulau Pisang ini yang masih saudara dengan temannya teman kami. Rumah-rumah di pulau ini sebagian masih berbentuk rumah panggung dan rumah yang kami tinggali-pun masih berbentuk rumah panggung. Untuk mandipun masih menggunakan sumur yang harus dipompa dengan kedua tangan. Terimakasih para partner yang udah nimbai-in air buat mandi. Hihiii. Sayangnya, sebagian rumah di sini sudah ditinggalkan penghuninya merantau ke Lampung atau kota-kota disekitarnya dan dibiarkan begitu saja sehingga kesannya jadi kurang terawat :(.
Bergaya di depan rumah 

Rumah Panggung
Setelah melepas lelah sejenak, kami mulai berkeliling ke ujung pulau ini, mencari spot yang pas untuk menikmati matahari tenggelam. Selain itu, di ujung pulau ini terdapat sebuah kapal karam yang terdampar (udah macam ikan duyung aja pake terdampar segala, hihihi). Sayang sekali semesta sedang tidak mendukung para pemburu sunset ini. Awan mendung menutupi matahari yang pelan-pelan mulai hilang tergantikan dengan bulan. Walaupun mendung, setidaknya langit jingga masih tampak di kejauhan walaupun sedikit. Ohiya, para lelaki nekat buat naik ke kapal karam itu, emang sih ada ban yang diikat tali dan ada kayu yang bisa dipakai buat jadi pijakan, tapi saya yang notabene takut ketinggian memilih untuk duduk santai di pinggir pantai sambil menikmati deburan ombak (so(k) nyantai). Beneran saya langsung lemes waktu ngelewatin karang-karang disana dan ngeliat kebawah dimana ombak udah siap nyergap kita. Usut punya usut ban + tali itu udah lama bergelantungan di atas sana. Untungnya masih kokoh menahan beban 5 orang. :)


Hi, you, Sun!

Kapal Karam

Harusnya Pulau Kelapa bukan Pulau Pisang! Hha
Sekitar pukul 17.30 WIB kami sudah harus kembali mengingat keadaan disana sangat sepi dan listrik hanya menyala dari maghrib sampai pukul 22.00 WIB. Setibanya di rumah kami telah disiapkan sebuah makan malam yang menurut kamu WAH sekali. Baru kali ini kami disuguhi kepiting yang di kota-pun jarang kami santap namun disini sudah jadi makanan sehari-hari warga Pulau Pisang. Wah, bener-bener maknyooss!!! :) Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk menikmati malam di pinggir pantai. 

Kepitingnya Maknyooss!!!
Malem itu. cuaca lagi ceraaaah secerah-cerahnya. Bintang bertaburan banyaaak banget di langit. Baru kali itu saya liat bintang sebanyak itu. Jauh dari polusi, cahaya kota yang sedikit, dan gak ada awan yang menutupi menambah jelas si bintang tadi. Ambil posisi dan HAAAPPPP kami udah di posisi masing2. Tiduran sambil menatap langit. Udah macam meteor garden aja, 1 cewek dan 4 cowok. Hahaha. Sempat beberapa kali kami melihat bintang jatuh, saya menyimpulkan satu kali kita melihat bintang jatuh, coba lihat disekitar area bintang jatuh tersebut, pasti ada bintang lain yang ikutan terjatuh juga. Hihiii. 

Udah ada suara deburan ombak, bintang nan bejubel di langit, bulan, kurang apalagi??? Kurang satu hal yaitu LAGU. Mendadak playlist malem itu dipenuhi lagu-lagu mellow dan suasana hati langsung berubah jadi galau. #eeaaa. Hahaha. Suasana malem itu bener-bener ngedukung banget deh buat galau #eh #eh. HAHA
Sebelum masuk angin, kamipun kembali ke rumah dan siap-siap tidur untuk bangun pagi esok hari ! Yeeaay

*********

Bangun pagi-pagi langsung main ke dermaga. Disana udah banyak anak-anak Pulau Pisang yang lagi mancing. Aaaa.. Saya selalu suka wajah polos mereka :). Bener-bener polos :)



Masa Kecil Kurang Bahagia



Berhubung kami pada belum mandi pagi semua, kami langsung menceburkan diri ke air laut. Berdiri di air sambil menunggu ombak besar datang menabrak tubuh kami dan kami langsung tertawa ketika ombak membawa kami ke pantai. Bener-bener MKKB alias masa kecil kurang bahagia !!! Hihiii.. Berkali-kali kami melakukan hal yang sama, berdiri - tertabrak ombak - tubuh terbawa ombak sampai pantai - lalu tertawa senang sambil mengeluarkan pasir di dalam saku kami. Moment nya dapet banget! :). Tunggu kedatangan saya selanjutnya :)


Terimakasih Pulau Pisang, Terimakasih juga buat matahari sore tanggal 14 Agustus 2013 nya yang menemani perjalanan pulang kami. :) Terimakasih buat Gibran yang udah jadi driver tangguh sumatera bolak-balik 14 jam duduk di bangku paling depan. . :) Terimakasih Kamal 1 dan Kamal 2 serta Mandala buat 2 harinya. Terimakasih :)

Motif khas masyarakat Pesisir Lampung 

Pulau Pisang

Perjalanan saya bersama 4 rekan saya ini bisa dibilang salah satu perjalanan terjauh buat saya di daerah kelahiran saya, Lampung. Lagi-lagi partner ngebolang saya ke Pulau Pisang ini adalah @gibransesunan , teman seperjuangan dari SD-SMP dan teman SMP kami @irsydkamal dan @mandaala serta salah satu sepupu dari gibran, kamal. 

Pagi-pagi sekali kami berlima kumpul di rumah saya di daerah Kedaton dengan asumsi rumah saya adalah rumah paling dekat dengan jalan utama menuju Pulau Pisang. OKE lah, saya bisa duduk-duduk manis menunggu kedatangan mereka. Gak harus buru-buru nyamperin ke rumah Gibran yang biasanya dijadikan beskem kami. Hihii. Sekitar 1 jam menunggu, pasukan pun lengkap, amunisi dimasukkan ke mobil dan here we go, Pisang Island! :) Bismillahirrohmanirohim.

Jalan menuju Pulau Pisang ini bener-bener panjang. Melewati daerah Pringsewu sampai ke Kota Agung bahkan membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang notabene masih hutan alami. Sebelum memasuki TNBBS ini-pun jalanan lumayan terjal, sampai saya sempat melihat sebuah spanduk di tikungan bertuliskanjalan"Jangan Kecelakaan Disini, Rumah Sakit Jauh". Emang bener sih, rumah sakit terdekat berada di Kota Agung. Jangankan Rumah Sakit, Pom Bensin masih sejam lagi dari daerah ini, warung yang menjual BBM pun berjarak sekitar 15 menit. Bener-bener jauh dari kehidupan manusia jalanan disana. Satu lagi, SEPI dengan mobil. Mobil yang melewati daerah ini bisa dihitung dengan jari.  

Memasuki daerah TNBBS, suasana menjadi adem. AC mobil kami matikan dan kami rasakan AC alami ini. Bener-bener segeeerr udaranya. Suara segerombolan monyet yang bersahut-sahutan menambah lengkap perpaduan hutan ini. Di beberapa titik kalo kita beruntung bisa kita lihat monyet yang berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Satu jam membelah hutan TNBBS, akhirnya pemandangan yang kami lihat berubah.  Saya yang ketiduran (atau sengaja tidur?) mendadak bangun. Suasana yang tadinya hutan hutan hutan, daun daun daun sekarang berubah 90 derajat menjadi Pantai. Yihaaaa, ombak Samudera Hindia udah manggil-manggil kami. Sebenernya saya masih trauma dengan ombak setinggi pohon gara-gara kunjungan saya ke Ujung Genteng, setahun silam. Tetapi, jujur ombak disana terlihat gagah menabrak batuan di pinggiran pantai sepanjang jalanan yang kami temui. Satu jam berada di pinggir pantai, kamipun memasuki wilayah Tanjung Setia. Salah satu spot paling OK di Lampung untuk menikmati matahari tenggelam dan spot paling OK juga buat para surfer. Tanjung Setia ini juga yang menjadi salah satu penarik wisatawan asing bagi Propinsi Lampung sendiri. 

Setibanya di Krui, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar satu jam lagi. Tujuan kami kali ini adalah Dermaga Tembakak. Lagi-lagi saya speechless dibuatnya, setelah melewati 0 mdpl, kami harus naik lagi membelah bukit-bukit dan pemandangan dari bukit-bukit ini bener-bener tokcer. Sang Ombak  yang gagah menghantamkan tubuhnya di karang-karang, mengorbankan diri mereka sendiri menjadi buih-buih sebelum kembali lagi ke laut. Ah, saya selalu suka mereka, batu, ombak, langit, laut, gunung. Kuasa Allah SWT memang benar-benar luar biasa. 

Dermaga Tembakak ini berada di pinggir jalan. Awalnya kami sempat kelewatan sedikit, tetapi terlihat sebuah kapal tradisional berisikan sekitar 10 manusia berlayar melawan ganasnya ombak Samudera Hindia membuat kami berbalik arah. Oh God, dermaga tembakak adalah dermaga alami. Sempet jiper juga dibuatnya. Jadi kita naik si Kapal dari pantai, pantai di dorong melawan ganasnya ombak sampai ombak sedikit tenang dan mesin pun dinyalakan. Saran saya simpan barang - barang elektronik di tempat yang kedap air kalo gak mau kebasahan :). Ketika berangkat saya aman (gak basah) . Di percobaan selanjutnya (baca : perjalanan pulang dari Pulau Pisang - Tembakak) saya basah kuyup dibuatnya. Memang sih, kali ini kami dibantu oleh ombak yang menuju ke pantai, tapi eh tapi udah mau sampai pantai dan kapal lagi didorong agar segera sampai ke pantai, ombak besar datang dan wuuusssssshhh, saya yang berada paling belakang langsung jadi basah dibuatnya. Belum selesai satu ombak datang lagi ombak lainnya, dan wuuuzzzz Basah lagi. Hahaha.   


Warung di depan dermaga

Dermaga Tembakak

Perahu yang membawa kami ke Pulau Pisang, liat ombaknya tuh!
Bikin jiper!!!

#Eh ada motor

Kapal di dorong melawan ombak

Kamal 1


Wajah agak takut pas kapal di dorong

Gibran

Mandala
Kamal 2
  Pisang Island, we`re coming!!!
Pulau Pisang


*diambil dari Google Earth
Saya bersyukur banget, lokasi Tugas Akhir saya ini sangat sangat dekat dengan pantai. Sekalinya jenuh - suntuk saya bisa 'kabur' ke pantai. Bagi kalian yang sedang atau akan berkunjung ke pulau Sumbawa, patut di coba pantai-pantai yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat ini :)

1. Pantai Maluk
Pantai pertama yang saya kunjungi di akhir minggu saya. Berlokasi sekitar 13 km dari tempat saya tinggal. Kalo dari Terminal Benete tinggal naik ojek dengan biaya sekitar Rp 2.000,- saja dan kita sudah bisa sampai di Pantai ini. Di bawah pukul 10.00 , banyak warga sekitar yang menghabiskan minggu pagi mereka di pantai ini. Hanya sekedar berenang ataupun menikmati suara deburan ombak. Lebih dari jam 10, maka rumah makan di pinggir pantai akan ramai dikunjungi para warga (biasanya) 'townsite' yang mencari menu baru. Waktu itu saya berkesempatan mencicipi ikan bakar, SEPAT (makanan khas Sumbawa), plecing kangkung yang ruar biasa enak, dan es kelapa muda. Ahh. Bener-bener enak banget ditambah pemandangan pantai yang kueren! *pantai terbersih dibanding pantai lainya



Sepat + Kelapa Muda + Ikan Bakar

2. Pantai Tropika
Pantai kedua yang saya kunjungi di akhir minggu saya lainnya. Dapat ditempuh jalan kaki sekitar 45 menit dari townsite atau dengan kendaraan selama 15 menit. Pertama kali saya ke sana saya mencoba via jalan kaki dan Subhanallah, jangan coba-coba jalan diatas jam 12 siang. Kondisi jalan yang gersang bisa bikin badan dehidras (OK, ini agak lebai! hha). Yang jelas pepohonan sangat sangat sedikit, jalanan terbuka. Untungnya waktu saya kembali ke townsite, kondisi sedang mendung dan #tiktiktikkkk,, gerimis datang dan kami (juga) kelimpungan nyari tempat berteduh.


Jalan menuju Tropika Beach  nan panas*.*

Yeeee. *mumpung lagi surut



Kapal Nelayan
  Disini kita bisa bertemu dengan warga sekitar yang mencari ikan di laut. Kedua kalinya saya ke pantai ini waktu saya ingin menikmati matahari tenggelam dan kali ini saya lebih memilih memakai kendaraan :) dan terakhir kalinya ke pantai ini, ombak lagi besar dan saya cuma bisa melihat langit mendung. :(


Sunset from Tropika Beach
Dyah - Fitri - Mbak Ade - Sendang - Dewi :')

3. Pantai Rantung
Pantai ketiga sebagai tempat saya 'kabur'! Berada persis di sebelah Pantai Tropika (dipisahkan oleh Bukit) dan jika menaiki kendaraan akan memakan waktu sekitar 20 menitan. Pantai ini sangat luassss dan salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam sampai-sampai saya berkunjung ke pantai ini sebanyak 4 kali. Hhe. Selain itu di salah satu sisi pantai ini, biasa dijadikan spot untuk surfing. Sayangnya banyak sampah laut terbawa ombak dan mampir di pantai ini.  







4. Pantai Yoyo
Pantai ini bersebalahan dengan pantai Rantung. Tidak ada batasan yang jelas antara Rantung dan Yoyo. Disini ombak sedikit lebih bersahabat dibanding Pantai Rantung. Baik Yoyo dan Rantung terdapat beberapa kafe sebagai tempat untuk menikmati indahnya pantai-pantai tersebut.








(kalo pantai-pantai edisi kali ini dikasih tema sambil menyelam minum air, sambil penelitian sambil ngebolang :') )
Postingan Lama Beranda

About Me

Foto saya
deem
Dyah. Geologist. ALSTE 2009. HMGUNPAD. Love traveling. Live your life!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • My 2nd Pregnancy
  • ►  2021 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (17)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2011 (33)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (80)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (10)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  September (2)

Popular Posts

  • (Review) Beberapa Vendor Pernikahan di Bandar Lampung
  • My 2nd Pregnancy
  • Dewi Wara Sembadra
  • MIMPI itu GRATIS
  • Dari Pulau Tanjung Putus sampai Pulau Pahawang

Copyright © 2016 Catatan Deem. Created By OddThemes & Distributed By MyBloggerThemes