Catatan Deem


Kali ini adalah kunjungan kesekian kalinya saya di Dieng, sebuah dataran tinggi dengan hawa yang sangat sejuk di daerah Wonosobo - Banjarnegara. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang akan melakukan perjalanan berulang kali di tempat yang sama, tapi Dieng memiliki daya tarik tersendiri yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana.

Pertama kali saya melangkahkan kaki di Dieng adalah ketika mengikuti PIT PERHIMAGI 2012 (Pertemuan tahunan untuk mahasiswa Geologi se-Indonesia). Salah satu fieldtrip adalah mengunjungi Geo Dipa yang terletak di Dieng. Dan itu adalah kali pertamanya saya merasakan hawa sejuk Dieng. Kedua kalinya saya ke Dieng adalah di awal tahun 2013 dengan tujuan utama adalah Gunung Sikunir (bisa baca di Gunung Sikunir.) Ketiga kalinya tepat satu tahun kemudian, awal tahun 2014. Kali itu tujuan saya adalah menghabiskan akhir tahun di Gunung Prau, setelah sebelumnya ngebolang ke Banyuwangi. Sayang waktu itu Prau sedang berkabut. Alhasil saya kembali untuk kelima kalinya ke Dieng demi si bukit teletubbies dan  si golden sunrise nya Prau. 
Pendakian kali ini adalah pendakian perdana saya di tahun 2015. Rehat dulu di awal tahun karena cuaca di Indoensia yang lagi kurang bersahabat namun tetap saja badan kebyoss selama perjalanan ke atas. Kami berempat (saya, Gilang, Fajri, dan Hapid) berangkat dari Jakarta menuju Wonosobo. Sebenernya agak dagdigdug juga sih, soalnya kita baru beli tiket di hari keberangkatan ditambah lagi pas banget dengan long weekend. Alhamdulillah dapet juga tiketnya. Terimakasih Gilang udah bolak balik Kalibata – Rawamangun, hihii.
Sore itu, kami janjian di terminal Rawamangun pukul 17.00 WIB. Disertai gerimis romantis tapi cukup buat tas kebyos juga akhirnya kami berhasil sampai di sana dengan selamat – gak terjebak macet. Bus kami berangkat sekitar pukul 19.30 WIB. Lumayan lama juga kami berdiri mengingat kami sudah berada di terminal sejak pukul 17.00 WIB. Selama perjalanan,bus berhenti dua kali untuk istirahat di restoran dan tepat pukul 08.00 pagi keesokan harinya kami tiba di Terminal Wonsobo.
Bus DAMRI , Rawamangun - Wonosobo
Welcome to Wonosbo!
Setelah sarapan di terminal, kami segera beranjak ke pasar Wonosobo untuk belanja logistik. Berhubung waktu itu adalah hari Jumat, jadi para lelaki melaksanakan solat Jumat dulu di Masjid dekat pasar sementara saya leha-leha di warung dekat Masjid. Hihii. Setelah selesai solat kami segera menuju depan RSUD untuk menunggu Bus yang akan membawa kami ke Dieng!
Perjalanan dari Wonosobo menuju Dieng memakan waktu sekitar satu jam. Kami turun di Balai Desa Patak Banteng, yang menjadi salah satu tempat berkumpul bagi pendaki yang ingin naik ke Gunung Prau. Pendaki sudah memenuhi Balai Desa sehingga kami mencari lokasi kosong yang masih berada di samping Balai Desa sambil menunggu teman-teman yang masih dalam perjalanan.
Narsis di depan Pos Pendakian Patak Banteng
Sekitar pukul 14.30 WIB teman-teman (Angga, Danis, Jaya dan Jefri) sampai juga di Patak Banteng. Sambil packing ulang dan menyiapkan logistik yang kurang kami beristirahat di lokasi tersebut. Sebelum melakukan pendakian, kami melakukan pendaftaran di Basecamp Pendakian Gunung Prau. Setiap pendaki dikenakan biaya sebesar Rp 10.000,- untuk retribusi. Setelah mendaftar, dimulailah perjalanan 4 jam kami. Jeng…jeng…jeng…


View dari Pos Pendakian Gunung Prau
Singkat cerita, perjalanan yang seharusnya bisa sedikit lebih cepat menjadi lebih lama karena sore itu Dieng baru saja hujan, jalanan menjadi sangat becek dan ramainya pendaki yang menyebabkan kemacetan di beberapa titik. Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 WIB kami semua sudah tiba di atas. 

Perut keroncongan dan akhirnya dengan sedikit perjuangan malam itu kami masih bisa nggeganjel perut sama Sayur Sop. Nyaammnyaaammmm :) . Perut kenyang matapun ngantuk. Malam itu saya tepar dan siap menyambut matahari besok pagi. Semoga gak mendung. Amin.


Menanti Fajar
Seperti biasa, saya selalu memasang alarm pukul 04.00 WIB demi melihat matahari pagi itu. Sebenarnya saya sudah bersama matahari saya yang lain, hihiii, tapi pagi itu saya tetap berniat untuk melihat matahari pagi bersamanya :). Alhamdulillah matahari pagi itu lumayan cerah, hati saya-pun juga lagi ceraaaaah pake banget. Hahaaa.. 

Waiting for the sunrise with my sun :)
Puas memandangi kedua matahari pagi, saya langsung semangat 45 beranjak menuju sisi lain dari puncak Prau via patak banteng. Daaaannn taraaaaaaa.... Bukit Teletubbies yang sangat terkenal itu dan membuat saya penasaran sejak 2 tahun lalu itu tepat berada di depan mata saya. Alhamdulillah. 


Bukit Teletubbies




@.@
Untuk perjalanan pulang kami memilih jalur lain. Kami memilih melewati Dieng. Terimakasih buat perjalanan kali ini :). 
Every journey always brings new friends!


Thanks all :)

:D


10 Oktober 2014
Perjalanan ini adalah sedikit pelipur lara di tengah penatnya kehidupan ibukota jakarta. Pingin jalan-jalan menyegarkan pikiran aja harus di akhir minggu, itupun cuma sabtu dan minggu aja. Emang bener ya, kalo ngebolang enakan pas kuliah, bisa cabut kuliah. Nah kalo udah kerja? Boro-boro :( . Tapi yasudahlah. Yang penting masih bisa menikmati hijaunya gunung. :)

Kali ini saya nyempil di antara para sesepuh MAAR. Reuni kecil-kecilan lah. Hhe. Tujuan kami kali ini adalah Gunung Papandayan di Garut. Tim kali ini terdiri dari Kang Shiddiq, Kang Ahmad, Kang Lukman, Kang Cuwon, Teh Agata, Gojimen, Tommy, saya dan rekan saya Ratna. Dua dari mereka adalah rekan seperjalanan saya ketika saya menghabiskan akhir tahun 2011 di Gunung Lawu. Berhubung kami semua sudah bukan mahasiswa lagi, kami janjian untuk ketemu di Nangor Jumat malam, setelah masing-masing dari kami pulang kerja.

Saya dan Ratna pun langsung berangkat pukul 17.30 WIB dari BSD. Kami berdua naik bus Maya Bakti sampai Pasar Rebo dilanjutkan naik Bus Primjas jurusan Garut. Untungnya kami berdua masih mendapat tempat duduk. Saya memilih tidur daripada bete sama macetnya jakarta dsk. Sekitar pukul 22.00 WIB saya sampai di Cileunyi lanjut ke Ciseke, kosan Rizka buat istirahat sambil nunggu Kang Lukman, Teh Agata dan Kang Cuwon. :)

11 Oktober 2014
Tepat pukul 01.30 WIB kami bertemu di pangdam (pangkalan damri). Setelahnya kami beranjak ke bunker MAAR untuk mengambil tenda dll sebelum melanjutkan perjalanan ke Garut. Berhubung saya udah ngantuk akhirnya saya tertidur dan baru bangun ketika sampai di warung untuk membeli Kue Balok. Lumayan lah buat ngganjel perut dan menghangatkan badan di tengah dinginnya Garut.
Kue Balok + Teh Manis Hangat
Kami pun melanjutkan perjalanan lagi dan akhirnya kami tiba di Cisurupan. Tadinya mau belanja dulu buat logistik tapi berhubung pasar belum buka (padahal di daerah saya jam segitu biasanya pasar udah pada buka :( ) kami langsung naik ke Camp Davis Papandayan. Saya pun memilih tidur (lagi) karena di luar pun tidak terlihat apa-apa. Sekitar pukul 04.00 WIB kami pun tiba di pelataran parkir Papandayan. Kami lebih memilih melanjutkan tidur di dalam mobil, dinginnya itu loh,,, bbbrrrr!!!!!!
Camp David

Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB dan saya mulai beranjak keluar dari mobil. Suwer. Dingin banget bro udara di luar. Tadinya sih mau liat matahari terbit tapi sayang mataharinya udah ngeduluin saya. @.@ . Pagi itu cuaca di Camp David sudah terlihat ramai. Beberapa pendaki sudah menyiapkan peralatan tempurnya dan siap mendaki ke gunung Papandayan. Selagi menunggu teman-teman yang lain kami duduk di salah satu pondokan sambil menyantap menu sarapan kami - nasi goreng -. Nyaamnyaamm.
Parkiran di Camp David

Walaupun 4 tahun lamanya saya tinggal di Jatinangor tapi saya selalu belum berjodoh sama Papandayan. Belum sekalipun berkunjung ke sana. Padahal yo lebih deket dari Jatinangor. Tapi gak tau kenapa saya belum merasa kepanggil aja ke situ,. Selalu ngebolang ke daerah Jawa Tengan ataupun Sumatera.Hhe.. Alhamdulillah sekarang ada gunanya juga, sambil menghabiskan akhir pekan sambil mengunjungi gunung-gunung yang dekat dengan tempat saya bekerja.

Ceritanya lagi istirahat



Singkat cerita kami sudah sampai di dekat Pondok Salada. Sebenernya kami ingin bermalam di Tegal Panjang tetapi ternyata jika ingin bermalam di sana kita harus mengurus simaksi minimal 1 minggu sebelum hari H. Ahh.. Pupus sudah keinginan menikmati cahaya pagi di Tegal Panjang. Mau gak mau kami bermalam di Pondok Saladah dan bener aja saat itu suasana di sana sudah ramai sekali oleh para pendaki lainnya.




Pondok Salada

Setelah mendirikan tenda kami pun segera berjalan menuju Hutan Mati. Menghabiskan waktu di sana sampai matahari terbenam dan akan berkunjung ke Tegal Alun keesokan harinya. Tadinya saya dan Gojimen ingin hunting bintang. Tapi sayangnya bintangnya kalah sama bulan dan awan. Yaudah deh akhirnya kami semua pun tertidur. 

12 Oktober 2014
Matahari keluar dari peraduannya

Sunrise 
Pagi-pagi sekali saya bareng Gojimen hunting sunrise. Bintang Papandayan gak dapet seenggaknya saya harus dapet sang matahari. Menurut saya sunrise  di setiap gunung punya keindahan masing-masing. Begitu juga dengan sunrise kali ini. Mungkin karena saya yang vakum udah lebih dari 6 bulan jadi ngerasa waahhhh lagi pagi itu.

Ada satu tempat lagi yang belum kami kunjungi. Tegal Alun. Dan here we are.. :)

Edelweis akan selalu cantik di habitatnya!

The only girls at the team

w/ Non Agata
w/ Ratna. Teman SMA yang dipertemukan kembali di BSD. :)
 Thanks Papandayan. :)

* Catatan :
1. Jakarta - Garut : Bus dari Kampung Rambutan / Pasar Rebo / Lebak Bulus
2. Garut - Camp David : Sewa Kolbak langsung atau naik angkot sampai Cisurupan dilanjutkan ngojek atau naik kolbak lagi.

Aa aja sih yang harus dilakuin sebelum - ketika - dan setelah suatu pendakian? Well, saya mau berbagi beberapa hal nih. 

1. Tentuin dulu destination kita.
Biasanya sih, ide kita mau mendaki kemana itu tercetus malah dalam hal gak terduga. Bisa dari obrolan iseng bareng anak-anak, abis liat liputan suatu gunung di tv, ataupun emang udah masuk dalam list kita. Kalo saya untuk gunung di dalam pulau Jawa lebih sering dari obrolan iseng bareng anak-anak buat ngisi weekend  dan terkadang baru tercetuskan minus 2 minggu dari hari H. Tapi kalo untuk gunung yang berada di luar pulau Jawa, udah tercetuskan dari 3-6 bulan sebelum hari H (ya iyalah, butuh budget dan perencanaan yang matang untuk pendakian di luar Jawa). 

2. Pilih jalur pendakian
Udah dapet kita mau naik ke gunung mana, waktunya kita tentuin mau lewat jalur pendakian yang mana. Biasanya di setiap gunung ada 2-3 jalur pendakian. Cari-cari informasi dan diskusikan dengan rekan satu tim. Yang jelas harus detail banget mengenai jalur pendakian ini. Mulai dari sumber air ada dimana di setiap jalur (buat manage air), kondisi setiap pos, pos mana yang memungkinkan untuk berkemah, waktu tempuh dari pos satu ke pos lainnya, tipe trek - terjal atau landai, apakah di jalur tersebut masih suka dilewati binatang atau tidak (sebagai contoh : waktu pendakian ke gunung Kerinci banyak referensi dari pendaki lain yang menyarankan untuk berkemah di area dengan elevasi >2000 mdpl, mengingat <2000 area="" dll.="" harimau="" keberadaan="" masih="" mdpl="" merupakan="" p="" sumatera="">

3. Akomodasi
Setelah tahu kita akan melalui jalur yang mana, tentukan akomodasi menuju daerah dimana jalur tersebut berada. Mulai dari naik bus/kereta, mau kelas ekonomi/bisnis/eksekutif, turun di stasiun/terminal mana, angkutan umum apa yang harus digunakan, bahkan apakah kita harus naik ojek/menyewa mobil bak terbuka untuk menuju daerah tersebut. Sekalian biaya dari setiap akomodasi dan waktu tempuh dari kota asal sampai daerah yang bersangkutan harus kita cari tahu. 

4. Logistik 
Di sini semua logistik harus didata. Mulai dari makanan, logistik kelompok dan logistik pribadi. Biasanya, logistik kelompok dan makanan didata terlebih dahulu dan diskusi dengan tim siapa yang membawa x, y, dan seterusnya. Untuk logistik pribadi yaa kita manage sendiri barang apa yang harus kita bawa biar pendakian kita nyaman :D . Di setiap pendakian saya, biasanya saya membawa keril dengan ukuran 45-60 L yang muat bahkan lebih untuk barang pribadi seperti jaket, syal, sleeping bag, baju tidur yang dirangkap sebagai baju ganti, kaos kaki cadangan, sarung tangan, headlamp, jas hujan, alat solat :) (ya itu mah diatur setiap pribadi aja barang apa yang perlu dibawa dan barang apa yang gak perlu dibawa)

5. AIR
Buat saya, air itu hal paling krusial alias paling penting. Kalo di gunung yang ingin kita daki gak ada sumber air sama sekali kita harus bener-bener bisa manage air. Waktu pendakian merbabu (2 hari 1 malem) saya membawa setidaknya 3L air dan 600 ml minuman ion. Kalo laper bisa di tahan tapi kalo haus aseli susah di tahan. Selain itu, gak mau kan kalo badan tjadi dehidrasi dan malah merepotkan anggota tim lainnya, so persiapan air harus disiapkan betul-betul. :D

6. Dana alias duit alias rupiah
Kalo saya urusan dana biasanya nabung dari uang bulanan. Untuk pendakian di luar pulau Jawa, saya udah nabung dari beberapa bulan sebelumnya. Untuk pendakian di dalam pulau Jawa biasanya nyaplok uang bulanan. Kalo mentok dana kurang, biasanya ada aja duit dateng dari langit. Hehehee, Dimana ada kemauan disitu ada jalan. :)

7. Stamina
Waktu pendakian stamina bener-bener harus dijaga. Sebelum pendakian biasakan olahraga berkelanjutan ( yaa, sebaiknya sih gak cuma pas mau pendakian aja baru olahraga, hhe). Lari atau berenang atau sepedaan atau olah otot juga udah lumayan ngebantu kita waktu pendakian. :)

8. PETA - GPS - Kompas
3 benda yang harus dibawa dan bener-bener sangat membantu waktu di lapangan. Waktu pendakian ke gunung Merbabu, kami terjebak badai di puncak. Angin kencang, kabut, hujan (bahkan hujan es). Mau diem di atas tapi badan udah basah kedinginan (ponco dan raincoat pun gak mempan), mau gak mau kami harus terus jalan biar badan tetap panas. Dengan jarak pandang yang terbatas kami sempat bingung di percabangan jalan. Buka peta sambil menggigil - orientasi medan - akhirnya kami  ikuti jalan X dan alhamdulillah jalan X itu jalan yang bener. Selain itu, biasanya kalo pas istirahat atau di pos-pos kita bisa plot dan mengetahui posisi pasti kita. 

9. Manage emosi
Kalo kata orang, karakter aseli manusia bisa keluar waktu di alam. Hmmm, jujur saya setuju sama quotes tersebut. Kalo mau tau karakter aseli temen kita, ajak naik gunung deh. Bisa ketauan deh baik-jeleknya mereka. Dan tentunya karakter orang beda-beda, gak semuanya baik-baik adakalanya karakter orang tersebut malah buat kita kesel/sebel. Disini kita belajar gimana kita harus manage emosi kita, Ya belajar sabar deh.

10. Positive Thinking
Hampir di setiap pendakian saya berusaha untuk selalu positive thinking. Ya walopun terlintas pikiran aneh-aneh di gunung, tapi saya berusaha untuk mengenyahkan pikiran aneh tersebut. Insya Allah dengan selalu positive thinking, jalan dimudahkan. 

Jangan sompral. Yang biasanya di kota suka ngomong kasar, kurang-kurangin deh ngomong kasar di atas gunung. Polusi suara kalo kata saya mah. Kita yang lagi pingin menikmati damainya - hijaunya - indahnya alam, jadi sedikit keganggu sama sebutan semua hewan di kebun binatang.

11. Bawa Sampah Turun
Pastinya dong kita bakal nyampah di gunung. Bawa sampah turun. Kasian alam yang harusnya cantik jadi berkurang kecantikannya gara-gara manusia. Saya juga lagi tahap belajar untuk yang satu ini. :)

12. NO VANDALISM
Jangan coratcoret apapun di atas gunung. Bikin jadi gak enak dipandang. :( Sama jangan metik bunga abadi alias anaphalis javanica alias edelweis. Kalo alesannya pingin bawa oleh-oleh buat pacaar, bawa si pacar ke gunung buat liat edelweis-nya secara langsung. Atau poto juga bisa kan? jadi gak ada alesan buat metik edelweis lagi, OK?!

13. Restu Orangtua - Doa
Setiap saya mau naik gunung saya pasti selalu minta restu orangtua. Dan jangan lupa berdoa ke Allah SWT agar perjalanan kita lancar dan selamat kembali ke rumah :)


13 hal  diatas ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, kurang lebihnya semoga bermanfaat, :)


Setelah puas menikmati alam Jambi dari atas gunung, kami segera bergegas turun ke Shelter 3 untuk segera turun ke Kayu Aro. Tepat pukul 11.00 WIB kami mulai turun. Jalur yang curam ketika berangkat tetap saja curam lagi ketika turun. Sukses membuat dengkul gemeteran! Kami harus lebih ekstra berhati-hati dalam perjalanan pulang ini.

Gak tau kenapa dengkul saya bener-bener cenat cenut setelah tiba di Shelter 1. Beneran deh kalo ketemu jalan yang terjal saya mesti pegang kanan-kiri buat jalan. Gak tau lagi dudul banget kaki saya waktu itu.   Kalo kata Kiddy mah intinya perjalanan turun gunung malah lebih riskan dibanding perjalanan waktu naik - pendaki yang tersesat biasanya malah waktu perjalanan turun gunung. Alhasil kami berempat selalu bersama-sama mulai dari puncak sampai bawah. Jujur, saya jadi gak enak hati sama anak-anak yang terus berjalan di belakang saya. . Terimakasih kalian yang sudah sabar nungguin saya. :)

Setelah 5 jam lamanya, akhirnya kami sampai juga di Pintu Rimba. Saking gemesnya keril saya dibawain Kiddy dari Pintu Rimba sampe tempat nungguin ojek yang datang menjemput kami. Sementara saya jalan mundur terseok-seok pake tongkat. Hahaa

Setibanya di Kayu Aro, kami segera beranjak menuju Penginapan Paiman untuk bermalam. Terimakasih Kiddy, Regian, dan Kang Shiddiq!


Mission Completed!

Rincian Lama Perjalanan dari Pintu Rimba - Puncak Kerinci
Nama Pos
Lama Perjalanan
Pintu Rimba – Pos 1
15 menit
Pos 1 – Pos 2
30 menit
Pos 2 – Pos 3
45 menit
Pos 3 – Shelter 1
1.5 jam
Shelter 1 – Shelter 2
3.5 jam
Shelter 2 – Shelter 3
1 jam 10 menit
Shelter 3 – Puncak Kerinci
2 jam
TOTAL
9 jam 10 menit

Akomodasi menuju Gunung Kerinci dari Lampung dan Bandung :

Dari Bandung
1.      Bus Bandung – Jambi (Rp 250.000,00)
2.      Travel Jambi – Sungai Penuh (Rp 100.000,00)
3.      Angkot Sungai Penuh – Kersik Tuo (Rp 8.000,00)
4.      Ojek sampai Pintu Rimba (Rp 10.000,00)
5.      Konsumsi selama di Kayu Aro – Jambi (Rp 100.000,00)
6.      Penginapan Paiman (Rp 30.000,00/malam)

Dari Lampung
1.      Travel Lampung – Jambi ( Rp 280.000,00)
2.      Travel Jambi – Sungai Penuh (Rp 100.000,00)
3.      Angkot Sungai Penuh – Kersik Tuo (Rp 8.000,00)
4.      Ojek sampai Pintu Rimba (Rp 10.000,00)
5.      Konsumsi selama di Kayu Aro – Jambi ( Rp 100.000,00)
6.      Penginapan Paiman (Rp 30.000,00)

Pemeran pendakian ini : 

Kiddy Nahli Aulia

Shidiq Maulana

Regian Achmad Kalis
Saya, DMN :')




Alhamdulillah bangun di pagi hari badan sudah mulai enakan. Langsung beres-beres tenda dan packing tepat pukul 07.00 WIB kami segera tancap gas menuju pemberhentian kami selanjutnya! SHELTER 3! *ini jarang banget kami berempat sigap beres-beres dan jam 7 pagi men udah siap capcus!*

Shelter 3
Dari Shelter 2 sampai Shelter 3 menghabiskan kurang lebih 1 jam perjalanan. Baru awal perjalanan, trek sudah sangat sangat terjal. Slope mulai dari 60 - 90 derajat bakal sering banget kita jumpai sepanjang perjalanan. Gak jarang, atraksi cium dengkul kami lakukan sepanjang perjalanan. Oksigen yang kian menipis membuat kami cepat lelah.

Makin ke atas, tanaman makin memendek. Cantigi makin mendominasi. Cantigi merupakan tanaman yang dapat bertahan dalam cuaca ekstrem sehingga dapat bertahan di daerah ini. Cantigi juga sangat membantu para pendaki ketika kesusahan menghadapi trek yang aduhai terjalnya! Tak jarang saya berpegangan pada cantigi ketika saya mulai terseok-seok menghadapi trek! Walaupun trek antara Shelter 2 - Shelter 3 relatif dekat tapi sangat dibutuhkan tenaga ekstra menghadapi trek yang terjal. 
Dan akhirnya kami sampai juga di Shelter 3, shelter yang biasanya digunakan pendaki sebagai camp terakhir sebelum summit attack. Shelter 3 berada pada ketinggian 3351 mdpl, koordinat 101.267184o BT – 1.705709o LS. Kondisi di Shelter 3 ini sangat terbuka dan lumayan luas menampung beberapa tenda. 

Disini kami bertemu dengan pendaki lain yang baru saja muncak dan akan turun hari itu. Yaah. Lagi-lagi kami hanya berempat dalam pendakian ini :( . Setelah bertegur sapa dan mengobrol sejenak, merekapun pamit untuk turun dan kami segera membangun tenda. 




Seharian kami habiskan untuk berkeliling di sekitar Shelter 3 sambil bernarsis-narsis ria dan ini nih yang sukses membuat tangan blang bonteng black and white. Hahaha. Ohiya, di shelter ini kita bisa nemuin sumber air yang kalo kata saya lumayan terbatas, jadi mesti hemat-hemat juga. Untungnya waktu itu hanya ada kami berempat sehingga kami masih bisa menikmati air yang lumayan banyak :)



Titik Tertinggi Berkemah yang pernah saya rasain!




4 kaki - 4 hati - 4 cerita!
 Semua cerita ditumplekin di tenda ini :')

Summit Attack to ATAP SUMATERA
Lagi-lagi kami bangun  subuh! Tepat pukul 03.30 WIB kami memulai perjalanan menuju Atap Sumatera ini. Awal perjalanan, kami membelah punggungan dan setelah mencapai bagian atas, jalanan landai dengan jurang di kanan-kiri mendominasi trek. Batas vegetasi adalah punggungan tadi. Sangat disarankan menggunakan masker mengingat debu sangat mengganggu pernafasan. Setelah 1 jam menanjak kamipun tiba di Tugu Yuda. 

Tugu Yuda
Tugu Yuda berada di ketinggian 3684 mdpl dan berlokasi pada 101.264274o BT – 1.699235LS. Disini terdapat sebuah tugu sebagai bentuk in memoriam untuk Yuda yang hilang di sini beberapa tahun yang lalu. Tugu Yuda berada pada daerah lapang sebelum sampai puncak. Dari sini terlihat jelas puncak Kerinci. Dari Tugu Yuda sampai Puncak Kerinci diperlukan waktu sekitar 30 menit. Trek menanjak sampai akhir. Dan tepat 2 jam lamanya kami sampai juga di Puncak Kerinci, 3805 mdpl.


Puncak Kerinci dari Tugu Yuda



Atap Sumatera, (3805 mdpl) - Alhamdulillah
Setelah 2 jam lamanya dari Shelter 3 akhirnya, PUNCAK GUNUNG KERINCI. Titik Tertinggi yang pernah kaki saya tapaki. Alhamdulillah. Hal pertama yang saya lakuin adalah Sujud Syukur. Jujur semua perasaan campur jadi satu, haru-lelah-bangga-senang campur aduk jadi satu. Terimakasih Ya Allah :')

Setelah sujud syukur, langsung saya hampiri Kiddy yang telah lebih dulu berada di Puncak. Kami berempat segera berpelukan di atap sumatera sambil menikmati pemandangan yang luar biasa. Dari puncak kerinci bisa kita lihat Danau gunung Tujuh di sebelah Timur, Danau Belibis di sebelah Barat Daya, dan Bukit Barisan di sebelah Tenggara. 
*gunung kerinci masih aktif!*
Sambil menunggu matahari terbit, kami berempat terdiam dalam jaket masing-masing. Udara benar-benar dingin membuat kami semua menggigil. Angin kencang juga berhembus di puncak ini. Bonus! Ini udara terdingin yang pernah saya rasain. Bbbbrrrrr. Pelan-pelan, matahari pagi mulai menyingsing. Selamat pagi dari 3805 mdpl! :')

detik-detik matahari terbit!

Selamat Pagi Sumatera!

Jaket, kupluk, syal, jaket, sarung tangan, semuanya buat menahan dinginnya Kerinci!
  
I <3 indonesia="" td="">



Jalur yang harus dilalui menuju Puncak Kerinci

Kiddy dan Kang Shiddiq in action! :D


Terimakasih Kerinci atas semua pembelajaran yang engkau berikan! Terimakasih Ya Allah. 

FULL Team (photo by:regian)
Full Team! (photo by : Regian)
Postingan Lama Beranda

About Me

Foto saya
deem
Dyah. Geologist. ALSTE 2009. HMGUNPAD. Love traveling. Live your life!
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • My 2nd Pregnancy
  • ►  2021 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2015 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (17)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Februari (4)
  • ►  2011 (33)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (4)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (80)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (7)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (10)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2009 (2)
    • ►  September (2)

Popular Posts

  • (Review) Beberapa Vendor Pernikahan di Bandar Lampung
  • My 2nd Pregnancy
  • Dewi Wara Sembadra
  • MIMPI itu GRATIS
  • Dari Pulau Tanjung Putus sampai Pulau Pahawang

Copyright © 2016 Catatan Deem. Created By OddThemes & Distributed By MyBloggerThemes