Geowisata 1 : Monterosa, Italy


…….
RELEVANT INFORMATION FOR THE FIELD TRIPS: Please, take into account to have with you warm clothes, waterproof jacket and trekking shoes both for the mountain field trip and the mining site.”
….”

H-7 keberangkatan email tersebut masuk ke dalam inbox saya. Memang awalnya yang saya tau akan diadakan fieldtrip ke salah satu institut yang berada di daerah dengan ketinggian 2900-an mdpl. Yang ada di pikiran saya waktu itu, pasti institut ini hanya bangunan dengan kelas-kelasnya yang berisi buku di beberapa bagian. Gak ada ekspektasi lebih untuk ngeliat salju ataupun memegangnya. Mengingat di hari keberangkatan masih peralihan dari summer ke autumn jadi saya gak berharap banyak. Yang jelas saya excited banget dengan fieldtrip kali ini karena setidaknya saya akan berkunjung ke daerah pegunungan.

Namun ketika saya tiba di lokasi, Diego dan Gioacchino memberitahukan mungkin kami masih bisa menyentuh salju disana. Ya berdoa saja kata mereka. Mendadak semangat saya menggebu-gebu untuk segera bertemu tanggal 11 September.

11 September 2014.

Pagi-pagi sekali kami harus sudah siap di lobi hotel. Setelah menyantap sarapan pagi, kamipun segera berjalan menuju parkiran Bus dan haapp begitu naik ke atas bus, kami ambil posisi masing-masing di bus. Tidak berapa lama kemudian, bus mulai berjalan. Kami diajak melewati kota sampai memutar di stasiun Pont Saint Martin. Ya semacam city tour . Sebelumnya bus kami melewati ancient roman bridge yang lagi-lagi lolos dari terjangan banjir di awal 2000an.

Suasana pedesaan sepanjang jalan menuju Monterossa!
Perjalanan pun dilanjutkan membelah kota-kota kecil. Kota kecil ini adalah kota tersepi yang pernah saya liat. Hanya ada beberapa rumah dengan mobil yang terparkir tanpa saya liat pemiliknya satu-pun. Ahh, kota ini terlalu sepi dengan dinginnya kehidupan disana.
Sepi men sepi!
Ketika bus telah berjalan sejam lamanya, mulai terlihat puncak gunung dengan salju diatasnya. Monterossa di kejauhan. Dan saya Cuma bisa bilang Subhanallah. Gunung kedua tertinggi di Italy berada sedikit dekat dengan saya. Bener-bener dekat. Alhamdulillah. Ditambah lagi tujuan kami ini adalah salah satu rangkaian Pegunungan Alpen.
Stafal - Gabiet 1825 mdpl
View dari Stafal - Gabiet
Kamipun tiba di Stafal-Gabiet 1825 mdpl. Disitu aja view nya udah keren banget, gimana view diatas sana? Gak kebayang! Keluar dari bus, masing-masing peserta mulai mengenakan jaket, sarung tangan masing-masing. Marco mengantri untuk membelikan tiket kereta gantung yang akan membawa kami ke tujuan kami. Setiap kereta gantung dapat diisi maksimal 7-8 orang. Saya memilih kereta paling terakhir.  Dari Stafal-Gabiet kami menuju Collo d`Ollen  dimana Istituto A.Mosso berada. Sebelum mencapai institute kami harus naik kereta gantung sebanyak 2 kali. Perjalanan pertama menghabiskan waktu sekitar 15 menit dan perjalanan kedua memakan waktu 30 menit. Sepanjang perjalanan dari Stafal – Gabiet pemandangan benar-benar amazing! Saya-pun mendapat penjelasan singkat mengenai geologi pegunungan ini dari Marco. Disini terdapat beberapa jenis batuan yang hampir didominasi oleh batuan metamorf, granit, dan ultra basa.

Monterossa Ski!
Begitu sampai di Collo d`Ollen, saya cuma bisa takjub. Ditambah takjub lagi ketika Luca memberitahu saya bahwa masih ada gundukan salju. Saya otomatis langsung berlari ke gondokan salju itu. Biarin deh dibilang dusun juga, yang penting ini Salju pertama saya. Huuuaaaa. Alhamdulillah. Saya tidak melihat Didit, padahal dia berada di salah satu kereta paling depan. Begitu saya mulai bermain-main salju baru datang Didit menghampiri salju pertama kami. Hahahaa..

Hari itu saya dan Didit selalu berada di barisan paling belakang, mengingat kami selalu berusaha mengabadikan momen-momen dengan kamera kami sementara peserta yang lain berjalan di depan kami. “Dyah – Thomas, come on!” , gak jarang kalimat tersebut di ucapkan para panitia ketika kami tertinggal dari rombongan. Hahaaa.. tak apalah ya. 



Setelah selesai bermain salju, kami berkumpul di sebuah bangunan, mendengarkan penjelasan Marco (lagi) mengenai batuan di daerah tersebut. Kenapa di bangunan? Gak di singkapan yang ada di sana? Yapp,, bangunan tersebut dibangun dengan tempelan batuan asli yang diambil dari daerah sekitar. Jadi kita bisa liat berbagai jenis batuan di dinding bangunan tersebut. Lengkap. Gak perlu jauh-jauh ke singkapan. Hhe. Dari penjelasan Marco, kita bisa menemukan batuan beku (batuan yang terbentuk dari pembekuan magma) seperti aplitic granite dan batuan metamorf seperti mica schist dengan mineral berbentuk planar (silimanite, biotite, mica, quartz, plagioclase), dan serpentin. Selain itu, selama terjadi proses uplift / pengangkatan dari kerak samudera dan benua yang diiringi terbentuknya fault / patahan di beberapa titik menyebabkan hydrothermal fluid menyelinap di antara rekahan-rekahan yang terbentuk. Hal ini lah yang menyebabkan kita bisa melihat beberapa batuan alterasi juga di sana.

Panorama dari Coll d` Ollen
Udah cukup puas dengan bangunan di sana, kami berjalan ke salah satu spot dimana terdapat singkapan isoclinal fold (lipatan isoklinal). Gak mau buang kesempatan, langsung saya abadikan penjelasan Marco dengan kamera yang saya bawa. Fold ini terdapat di salah satu batuan metamorf, serpentin dan mica-schist. Batuan ini merupakan batuan yang terbentuk jauh di bawah permukaan bumi, sekitar 10km. Bisa kebayang kan gimana batuan yang tadinya ada jauh di dalam bumi bisa ke ekspos ke permukaan? That`s why I love my job!! Kita dipaksa masuk ke dunia imajinasi kita,  membayangkan hal-hal yang luar biasa dengan skala raksasa terjadi di bumi ini hanya dari hasil yang tersingkap sekarang. The present is the key to the past. Fieldtrip kali ini bener-bener Geowisata banget! :)
Bapak Angelo Mosso

Istituto A. Mosso
Melintas batas melewati imajinasi kami masing-masing, kami ditarik lagi ke dunia nyata. Berpaling dari si lipatan kami segera bergerak menuju institute. Kami segera masuk ke dalam bangunan, berusaha mencari sedikit kehangatan di dalam ruangan. Kami berkumpul di salah satu ruangan, melihat presentasi dari beberapa pakar mengenai sejarah institute dan segera berkeliling institute. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok ini memiliki kajian khusus masing-masing dan saya memiliki tema hazard. Institut ini sebenarnya sedang dalam tahap pengembangan menjadi sebuah *museum*. Jadi beberapa kelompok dengan temanya masing-masing ini, memulai “kerja kelompok”. Kami diharuskan mendesain tata letak dari setiap ruang, hal apa yang harus di tambahkan sehingga institute ini dapat menjadi sarana education bagi pengunjung yang datang dan mereka setidaknya mendapatkan pembelajaran mengenai geologi dll. Saya memilih hazard karena menurut saya dibalik keindahan yang ada di Monterossa terdapat juga ‘sisi lain’ yaitu hazard yang dapat melanda kapan saja. Jadi hazard merupakan salah satu hal penting di museum ini. Setelah berdiskusi panjang lebar, kami pun segera kembali ke ruangan dimana kami pertama kali masuk.
Course
Salah satu media untuk memberikan pendidikan mengenai avalanche
Sambil menunggu kelompok lain menyelesaikan diskusinya, saya memilih keluar untuk menikmati udara segar di sana. Kali ini cuaca berpihak kepada saya. Puncak Monterossa terlihat jelas di depan saya. Tanpa ada kabut yang menghalangi pandangan. Benar – benar amazing!!! Terimakasih Allah SWT, saya bisa berdiri di sini. Allahu Akbar! 

Perjalanan hari ini ditutup dengan diskusi tengah malam di hotel dengan mata terkantuk-kantuk! Bye! Geowisata yang menyenangkan :)




Share:

0 komentar